Tulungagung, ArahJatim.com – Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di sekolah sering kali dipersepsikan hanya sebatas membuat siswa “asal bergerak” atau berlarian di lapangan. Namun, apakah semua siswa memiliki kapasitas fisik yang sama? Nyatanya, menyamakan beban latihan untuk seluruh siswa tanpa mengukur kondisi tubuh mereka justru menyimpan risiko cedera yang fatal.
Menyikapi realitas tersebut, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dari Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Kesehatan dan Keolahragaan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) turun tangan. Mereka menggelar pelatihan khusus bagi para guru olahraga di SMA 1 Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Sabtu (18/7/2026).
Pelatihan ini mengusung misi besar: Mengembalikan esensi pendidikan olahraga yang aman, sehat, dan berkualitas lewat penerapan konsep ilmiah S.A.F.E (Safe Activity, Appropriate Nutrition, Fit Exercise Load, dan Effective Learning).
Bukan Sekadar Pelatih Fisik, Guru PJOK adalah Promotor Kesehatan
Dipimpin oleh Prof. Dr. Himawan Wismanadi, M.Pd., tim pakar dari UNESA, yang beranggotakan Testa Adi Nugraha, M.Pd., Dr. Soni Sulistyarto, M.Kes., Ns. Caturia Sasti Sulistyana, M.Kep., Afif Rusdiawan, M.Kes., dan Yudi Dwi Saputra, M.Pd, berbagi ilmu secara interaktif. Pelatihan ini diikuti oleh 40 guru olahraga SMA yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PJOK Kabupaten Tulungagung.
“Pembelajaran PJOK yang berkualitas bukan hanya tentang seberapa banyak siswa bergerak, tetapi memastikan setiap gerakan dilakukan dengan aman, sehat, dan sesuai karakteristik uniknya,” ujar Prof. Himawan menegaskan esensi kegiatan.
Dalam sesi ini, para guru diajak mengubah paradigma lama. Guru olahraga zaman sekarang tidak boleh lagi menerapkan prinsip one-size-fits-all (satu ukuran untuk semua). Siswa yang mengalami obesitas, underweight (terlalu kurus), atau memiliki riwayat asma tentu tidak bisa diberikan intensitas latihan yang sama dengan siswa bermassa otot ideal.
Mengenal ‘Red Flags’ Siswa Lewat Skrining 1 Menit
Salah satu materi krusial yang diajarkan adalah pentingnya Pre-Class Screening atau deteksi awal sebelum memulai kelas lapangan. Hanya butuh waktu satu menit sebelum pemanasan, guru bisa mencegah hingga 90% insiden darurat atau cedera akut pada siswa.
Tim PKM UNESA memperkenalkan sistem traffic light (lampu lalu lintas) untuk kondisi fisik siswa:
- STOP: Jangan paksakan latihan berat jika siswa sedang sakit, mengalami cedera akut, atau mengeluhkan nyeri dada dan sesak napas.
- CAUTION: Lakukan modifikasi latihan jika siswa kedapatan belum sarapan, kelelahan, atau masuk kategori obesitas ekstrem dan underweight berisiko.
- GO: Lanjutkan latihan sesuai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) jika gizi normal, hidrasi cukup, dan tidak ada keluhan fisik.
Untuk mengukur intensitas latihan secara real-time di lapangan tanpa alat mahal, para guru diajarkan metode RPE (Rate of Perceived Exertion) Scale (skala 0-10) dan Talk Test. Jika siswa masih bisa berbicara lancar saat beraktivitas, artinya mereka berada di zona aman (intensitas sedang). Namun, jika sudah terengah-engah dan sulit bicara, itu adalah sinyal kuning bagi guru untuk menurunkan intensitas beban latihan.
Praktik Canggih: Mengintip Komposisi Tubuh dengan BIA
Tidak hanya teori, 40 guru olahraga yang hadir juga diajak langsung mempraktikkan teknologi keolahragaan menggunakan alat BIA (Bioelectrical Impedance Analysis). Metode ini menggunakan aliran listrik berfrekuensi rendah yang aman untuk membaca apa yang ada di dalam tubuh siswa, jauh melampaui angka timbangan biasa.
Melalui simulasi alat BIA ini, para guru belajar membaca parameter penting seperti:
- BMI (Body Mass Index): Proporsi berat dan tinggi badan.
- Body Fat % & Visceral Fat: Cadangan lemak total serta lemak berbahaya yang tersembunyi di area perut.
- Muscle Mass: Massa otot sebagai penggerak utama tubuh saat berolahraga.
- Total Body Water: Level hidrasi dasar tubuh.
Dengan memegang data konkret ini, guru olahraga di Tulungagung kini bisa mendesain program latihan yang lebih personal dan ilmiah.
Mencegah Dehidrasi: “Jangan Menunggu Haus!”
Aspek nutrisi dan hidrasi yang selama ini sering terabaikan dalam jam pelajaran olahraga juga dikupas tuntas. Berdasarkan acuan ilmiah ACSM dan WHO, tim UNESA mengingatkan bahwa dehidrasi dapat menurunkan fokus, merusak performa, dan secara eksponensial menaikkan risiko cedera.
Para guru dibekali protokol hidrasi praktis: mewajibkan siswa minum 400–600 ml air sekitar 2-3 jam sebelum berolahraga, serta menjaga asupan air berkala (150–250 ml) setiap 15-20 menit selama aktivitas fisik berlangsung. Konsep gizi seimbang “Isi Piringku” dari Kemenkes RI juga ditekankan agar siswa mendapatkan bahan bakar yang cukup sebelum membakar energi di lapangan.
Melalui program kemitraan yang humanis ini, FIKK UNESA berharap dapat melahirkan generasi muda Tulungagung yang tidak hanya aktif bergerak, melainkan tumbuh dengan bugar, cerdas, aman, dan berkarakter unggul. (das)











