Kediri, ArahJatim.com – Waktu baru menunjukkan pukul dua dini hari. Kabut masih turun tipis-tipis menyelimuti kompleks Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Kediri. Tapi suasana di dalamnya sudah hangat oleh aktivitas. Sejumlah petugas bersiap. Sarung tangan dikencangkan, pisau diasah, dan doa-doa dipanjatkan. Hari itu, Jum’at pagi, (6/6/2025), mereka akan menyembelih puluhan hewan kurban titipan warga.
“Mulainya jam dua pagi. Karena jumlahnya cukup banyak dan masyarakat berharap daging bisa segera didistribusikan pagi harinya,” ujar Moch. Riduwan, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Kediri.
Tahun ini, RPH Kota Kediri kembali menjadi tempat pelaksanaan penyembelihan hewan kurban atas amanah dari masyarakat. Jumlahnya tak sedikit: 36 ekor sapi dan 10 ekor kambing, yang dipotong secara bertahap selama empat hari mulai hari raya Idul Adha hingga hari tasyrik terakhir.
“Ini bukan pertama kalinya kami membantu pelaksanaan kurban. Ini sudah jadi rutinitas tahunan, dan alhamdulillah masyarakat makin percaya,” katanya.
Tapi bukan sekadar potong dan bagi. Di balik itu, ada tanggung jawab besar: memastikan daging yang dikonsumsi warga benar-benar sehat dan aman. Tim dari Dinas Ketahanan Pangan bergerak sejak jauh hari. Mereka melakukan sosialisasi, mengecek pasar hewan, memberi pelatihan pada juru sembelih, hingga mendampingi langsung proses pemotongan.
“Sejak adanya PMK, LSD, bahkan antraks, kami makin waspada. Kami tidak ingin ada daging sakit yang sampai ke tangan masyarakat,” jelas Riduwan.
Hari pertama penyembelihan, Jumat (hari raya Iduladha), menjadi semacam pembuka. Sebanyak tujuh ekor sapi disembelih sebelum pukul 09.00 pagi. Namun, puncaknya justru hari Sabtu. “Besok itu paling padat, ada 27 sapi dan 10 kambing. Tapi alhamdulillah semua berjalan lancar.”
Yang menggembirakan, hingga saat ini belum ditemukan satu pun kasus daging atau organ dalam yang bermasalah. Tidak ada cacing hati, tidak ada gejala penyakit menular. Semua hewan layak konsumsi.
Petugas-petugas di lapangan bekerja dalam diam. Mereka datang sejak tengah malam, menyiapkan segalanya, lalu kembali ketika matahari mulai meninggi dan kurban telah terdistribusi ke berbagai mushola dan masjid.
“Kami punya 12 personel khusus. Ada dokter hewan, paramedik, teknisi, semua bekerja sama. Kami juga dibantu oleh Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI). Ini bentuk komitmen kami,” tambah Riduwan.
Bahkan soal limbah pun tak luput dari perhatian. Organ yang tidak layak langsung dimusnahkan, air limbah diolah mandiri, kotoran tidak dibiarkan mencemari lingkungan. “Kami olah jadi pupuk atau ditimbun dengan aman. Jangan sampai niat ibadah malah mencemari alam,” ujarnya.
Di balik setiap potong daging kurban yang dibagikan dengan senyum dan doa, ada kerja panjang yang tidak selalu terlihat. Di balik gemuruh takbir dan tawa anak-anak yang menanti bagian, ada tim yang diam-diam memastikan semua aman, bersih, dan berkah.
“Yang kami jaga bukan cuma daging, tapi juga kepercayaan masyarakat,” kata Riduwan, sebelum kembali meninjau penyembelihan selanjutnya. (das)





