Berkedok Jual Beli Properti Syariah, Bos Indo Tata Graha Ditetapkan Tersangka

oleh -
Dadang Hidayat, owner dan CEO PT Indo Tata Graha yang kini ditetapkan sebagai tersangka oleh Polrestabes Surabaya

Surabaya, ArahJatim.com – Bos PT Indo Tata Graha (ITG), Dadang Hidayat (35) resmi menyandang status tersangka atas sangkaan tindak pidana penipuan bermodus jual beli properti syariah.

Dadang ditetapkan sebagai tersangka atas laporan dari salah satu konsumen, Kesti Irawati. Pelapor dalam hal ini mengklaim mengalami kerugian sebesar 2,1 Miliar.

“Ditetapkan tersangka pada 28 April 2021 oleh penyidik Polrestabes Surabaya,” ungkap Hermawan Benhard Manurung, kuasa hukum Kesti, Rabu (5/5/2021).

arahjatim new community
arahjatim new community

Menurut Benhard, Dadang telah menjual rumah dengan lahan fiktif dengan modus jual beli properti syariah.

“Jadi yang dilakukan Dadang adalah murni sebagai perbuatan melawan hukum. Karena objek yang diperjual belikan adalah objek lahan fiktif,” ungkapnya.

Benhard menjelaskan, akad perjanjian jual beli yang dilakukan oleh ITG dikemas sedemikan rupa seolah-olah sebagai perjanjian yang halal, dengan model Akad Istishna maupun Akad Salam.

“Untuk meyakinkan konsumen, Dadang membuat akad (perjanjian) dengan memakai legislasi notaris,” kata Benhard.

Padahal sambung Benhard, perjanjian dapat dikategorikan sebagai perjanjian yang halal apabila memenuhi pasal 1320 juncto 1338 KUHPerdata. Dimana objek yang diperjual belikan itu statusnya jelas dan legal.

“Dalam artian penjual harus membuktikan alas hak kepemilikan yang sah dan diakui oleh undang-undang,” imbuhnya.

Sedangkan objek lahan yang diperjual belikan oleh Dadang, statusnya masih milik orang lain atau pihak ketiga.

“Ironisnya, pihak ketiga ini tidak tau kalau lahannya itu diperjualbelikan oleh Dadang,” kata dia.

Diceritakan Benhard, Kesti tertarik membeli properti rumah murah yang dipasarkan oleh ITG di Jalan Bhaskara Sawah, Desa Kalisari, Kecamatan Mulyorejo, Surabaya.

Kemudian, Pada 26/11/2018 Kesti membayarkan sejumlah uang sebesar 1,2 miliar dengan perjanjian (akad Salam) yang dilegalisasi di kantor Notaris Indriani Yasmin.

Lebih dari itu, Kesti kemudian ditawari kembali oleh marketing ITG sebuah unit rumah yang terletak di komplek perumahan Mulyosari seharga 1,3 miliar.

“Dibuatlah akad jual beli kedua dengan model Akad Istishna, Kesti telah menyerahkan uang sebesar 500 juta lebih, padahal di situ sampai sekarang tidak ada objek fisiknya. Kalaupun ada, itu adalah milik orang lain dan bukan milik ITG atau Dadang” kata Benhard.

Untuk meyakinkan para konsumen, ITG membuat branding seolah-olah membuat perumahan dengan membangun satu unit rumah contoh. Padahal, keseluruhan area perumahan itu statusnya masih dimiliki pihak ketiga yang tidak ada hubungannya dengan ITG. (jun)

No More Posts Available.

No more pages to load.