“Kami ingin INKA tidak hanya sekadar industri, tapi juga membawa kekayaan peradaban dan kebudayaan daerah. Adanya museum juga bisa menjadi destinasi wisata teknologi dan edukasi,” ujarnya.
“Di Banyuwangi, setiap ruang publik dan bangunan baru harus mengakomodasi kekhasan Suku Osing. Ini ikhtiar membangun mainstream pariwisata sehingga terinternalisasi ke seluruh sektor di Banyuwangi,” imbuh Anas.
Pabrik anyar di Banyuwangi sendiri difokuskan menggarap pesanan dari berbagai negara.

“Kami memperlebar pemasaran produk kereta ke pasar Asia Timur, Afrika, dan Australia,” ujar Budi.
Pabrik di Banyuwangi menjadi pabrik kereta terbesar di Indonesia dengan investasi Rp 1,6 triliun. INKA menggandeng Stadler Rail Group dari Swiss, salah satu produsen kereta terbesar dunia, yang akan membawa teknologi terbaru kereta api ke Banyuwangi.
INKA merekrut 2000 pekerja lokal di pabrik baru ini. Sebagian akan dikirim magang 3 bulan di Swiss sembari menunggu pabrik Banyuwangi dalam proses pembangunan yang ditargetkan rampung pada 2020. Chairman Staer Rail Group Peter Spuhler mengatakan, pihaknya antusias membawa teknologi terbaru Eropa ke Banyuwangi.
“Stadler kini memiliki 10 pabrik dari Rusia sampai Amerika Serikat. Sekarang kami akan memasuki banyak pasar baru potensial. Kita sambut masa depan yang cerah,” ujarnya. (*)











