ArahJatim.com – Detak jantungnya berdegup kencang. Kedua matanya terbelalak terpanah penuh ketakutan. Kakinya terdiam seakan tak dapat bergerak. Peristiwa itu bak mimpi buruk yang tidak ingin diulanginya lagi.
Cahaya putih bulan di malam itu menyala menerangi gelapnya kota. Lalu lalang kendaraan bermotor masih terdengar dari rumah Jaka, 21. Tempat tinggal laki-laki berambut cepak itu terletak di pinggir jalan raya.
Jarum jam dinding menunjukkan pukul 19.00. Dering handphonenya berbunyi cukup kencang. Rupanya teman kuliahnya menelepon. “Dimana Jak sekarang? Ayo keluar sama teman-teman lihat matahari terbit,” ucap Alvin, 20. Ajakan hang out tersebut pun dituruti Jaka.
Kebetulan saat itu mereka menganggur. Kuliah masih diliburkan. Bahkan, tatap muka pun sedang ditiadakan selama pandemi ini. Pergi berlibur menjadi salah satu kesempatan mencairkan suasana kebosanan.
Tepat pukul 23.00, suara knalpot kendaraan roda 4 terdengar. Jaka bergegas keluar rumah dan menaiki mobil. Ada 3 orang yang berada di dalamnya. Keempatnya adalah laki-laki remaja sesama kawan kuliah.
Roda mobil pun berputar melahap jalan demi jalan. Tujuannya melihat pemandangan sang surya terbit di area gunung. Jarak rumahnya dengan titik lokasi cukup jauh. Berkisar 70 kilometer. Dibutuhkan waktu kurang lebih 3 jam untuk tiba di lokasi.
Canda tawa menjadi teman perjalanan mereka selama perjalanan. Ditemani sambungan musik mobil membuat suasana semakin asik. Tak terasa keempatnya pun bakal tiba di titik awal jalan masuk menuju area puncak.
“Aduh pegal. Gelap juga gini ya. Merinding rasanya. Seharusnya ada PJU (penerangan jalan umum) nih,” kata Alvin. Jarum jam dinding menunjukkan pukul 02.00. Tak ada lampu penerangan jalan di sepanjang area itu.
Nasib baik seakan tak berdekatan dengan mobil milik Alvin itu. Indikator bensinnya menandakan waktunya diisi ulang. Khawatir tak cukup jika diteruskan menuju titik parkir area puncak.
Salah satu rumah warga kebetulan terpampang botol bensin. Mobil pun dihentikan. Jaka bersama Alvin, dan satu rekannya berjalan menuju rumah tua tersebut.
Pintu rumah tersebut tertutup rapat. 5 kali diketuk pun tetap tak ada yang membukanya. “Waduh gelap-gelap gini kok pengen buang air kecil. Gara-gara hawa dingin ini,” celetuk Alvin. Dia pun memaksakan diri berjalan ke arah samping agak menjauh dari rumah itu untuk buang air kecil.
Diapit dua pohon cukup besar, Alvin seakan tak menggubris keadaan sekitarnya. Kresek kresek kresek, dedaunan pohon pun tiba-tiba berjatuhan. Alvin yang selasai buang air sontak melihat ke atas.
Tak ada tanda hewan primata berjalan. Dia coba membuka handphone dan menyalakan flash. Cahaya itu diarahkan ke atas pohon yang berdiameter cukup besar.
Mata Alvin pun terbelalak. Tarikan nafasnya cukup panjang. Mulutnya terbuka lebar. Kakinya tiba-tiba kaku terdiam.
Diantara dedaunan, terlihat rambut hitam pekat cukup panjang menjulur ke arah bawah. Sinar merah layaknya mata seseorang menyala melihat ke arahnya. Seakan ingin turun menuju remaja itu.
Alvin pun menjerit ketakutan. Tak ayal teriakan itu membuat Jaka dan temannya terkejut dan langsung menghampirinya. 2 botol kosong wadah bensin yang ada di depan rumah tua itu mendadak jatuh pecah.
Suasana keheningan berubah mencekam. Keduanya pun mengajak Alvin segera menuju mobil. “Astaghfirullah!! ayo ayo pergi saja. Masuk mobil aku yang nyetir. Isi bensin nanti saja yang penting keluar area,” teriak Jaka.
Mereka pun memutar balik ke arah bawah keluar dari jalur masuk puncak menuju jalan raya.
Sambil terbata-bata, Alvin menceritakan kejadian yang baru pertama kali dialaminya. Tepat di samping pintu keluar, kebetulan ada salah satu pintu rumah warga terbuka.
Sang pemilik juga terlihat jual bensin. Jaka pun berhenti sejenak membeli bensin. Sedangkan teman-temannya trauma enggan turun dari mobil.
“Pak, saya sama teman-teman ditakuti-ditakuti makhluk tak kasat mata pak saat mau isi bensin di rumah tua,” katanya.
Jaka pun menunjuk lokasi tersebut. Bapak berusia 55 tahun bernama Iwan itu pun keheranan. Dia mengatakan tidak ada satu pun penjual bensin di area jalur ke puncak.
Bahkan, rumah tua yang disebut pun tak pernah ada. Sebab, dirinya sudah berjualan selama 20 tahun. “Rumornya memang daerah situ suka ada yang menggoda. Entah menampakkan diri atau menyamar. Sebetulnya nggak perlu berhenti selama perjalanan. Terus aja,” ujar ayah 1 anak itu.
Bulu kuduk Jaka berdiri. Terdiam terpanah Dia pun menceritakannya kepada kedua temannya. Kejadian itu seakan tertanam menjadi memori kelam. Kapok untuk kembali ke wilayah angker itu di kemudian hari.
Oleh : R Aufar Dhani H










