Program Edukatif 120 Menit Mengajak Pengunjung Menyelami Nilai-Nilai Karakter Kebangsaan Melalui Keheningan
Kediri, ArahJatim.com – Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan bising, Kabupaten Kediri menghadirkan konsep wisata edukatif yang unik bernama “Wisata Bisu: Transformasi Jiwa Kusno Menjadi Soekarno”. Berlokasi di Situs Ndalem Pojok Persada Sukarno, Desa Pojok, Kecamatan Wates, program ini tidak hanya mengajak mengunjungi tempat bersejarah, tetapi juga merasakan pengalaman reflektif selama dua jam penuh dalam keheningan.
DARI PROGRAM BINLAT MENJADI WISATA YANG RAMAH MASYARAKAT
Wisata Bisu merupakan pengembangan dari Pilot Project Bimbingan dan Pelatihan (BINLAT) Laboratorium Pendidikan Karakter Jati Diri Bangsa yang sebelumnya berformat satu hari penuh. Kini, pengalaman tersebut dirangkum dalam paket singkat berdurasi sekitar 120 menit agar dapat diakses lebih luas oleh masyarakat, terutama pelajar dan generasi muda.
Ketua Umum Situs Ndalem Pojok Persada Sukarno Kediri, R.M. Suhardono, S.E., menjelaskan bahwa konsep ini dirancang sederhana namun sarat makna. “Dalam waktu yang relatif singkat, peserta diajak untuk berhenti sejenak dari kebisingan, merasakan suasana situs, dan merefleksikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” ujarnya pada Kamis (5/2/2026).
TIGA TAHAPAN REFLEKTIF MENGANTARKAN KE MAKNA SEJARAH
Selama kegiatan berlangsung, peserta akan melalui tiga tahapan utama yang mengedepankan pendekatan experiential learning:
- Tahap Prosesi Hening: Melatih ketenangan, adab, dan kepekaan batin melalui keheningan.
- Tahap Storytelling Kontekstual: Menghidupkan kembali perjalanan hidup dan semangat perjuangan Bung Karno di lokasi yang memiliki nilai sejarah mendalam.
- Tahap Internalisasi Jati Diri: Ruang refleksi pribadi untuk menanamkan nilai karakter kebangsaan.
Dengan pendekatan ini, peserta tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga merasakan langsung suasana dan makna yang terkandung di situs bersejarah tersebut.
KEHENINGAN BUKAN KEKOSONGAN, MELainkan SARANA PEMBELAJARAN
Salah satu peserta, Faridatul Kholidah (siswi SMA asal Jombang), mengaku merasakan pengalaman yang berbeda dibandingkan kunjungan sebelumnya. “Saya sudah beberapa kali datang ke sini, tetapi mengikuti Wisata Bisu rasanya lain. Dengan diam, saya justru lebih merasakan suasana dan memahami maknanya,” tuturnya.
Kepala Program Pekat Wisata Bisu, Kus, menjelaskan bahwa keheningan dalam tradisi Nusantara kini diarahkan sebagai sarana pembelajaran karakter. “Keheningan di sini bukan kekosongan. Peserta dipandu untuk mengistirahatkan logika dan menyalakan rasa, sehingga nilai-nilai dapat lebih mudah direnungkan,” jelasnya.
Menurut Kus, kemampuan untuk diam dan mendengar menjadi keterampilan penting di tengah dunia yang semakin bising. “Ketika kata-kata dihentikan, ruang batin justru terbuka. Dari sanalah peserta belajar memahami diri, sejarah, dan nilai kebangsaan dengan cara yang lebih mendalam,” tambahnya.
ALTERNATIF WISATA EDUKATIF YANG MENENANGKAN DAN MENGGUgah
Melalui Wisata Bisu, Situs Ndalem Pojok Persada Sukarno Kediri menghadirkan alternatif wisata yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan makna mendalam. Sebuah ajakan untuk berani diam sejenak, agar lebih mampu melangkah dengan kesadaran di tengah keramaian kehidupan modern. (das)











