UMKM Produsen Kue Lebaran Menjerit, Omzet Penjualan Turun 50 Persen

oleh -

Banyuwangi, ArahJatim.com – Momentum lebaran, sangat ditunggu oleh para pemilik industri kue kering. Sebab, pada momen tersebut biasanya omzet penjualan maupun pesanan kue yang diproduksi meningkat sangat tajam. Namun tidak demikian untuk tahun ini, di tengah pandemi Covid-19 sejumlah pengusaha kue kering di Banyuwangi mengeluhkan menurunnya  omzet penjualan hingga 50 persen.

Seperti yang terjadi di rumah industri kue kering “ANISA” di Desa, Lemambang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi ini, aktivitas pembuatan kue tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Karena sebagian pegawai dirumahkan seiring menurunnya produksi kue kering akibat omzet penjualan yang menurun drastis.

Padahal sejak awal hingga pertengahan puasa, biasanya para pelanggan sudah mulai berdatangan membeli kue untuk persiapan lebaran. Namun untuk kali ini belum satupun pelanggan yang memesan atau membeli langsung kue lebaran buatannya.

Parahnya lagi, pesanan kue lebaran dari para pelanggan yang dipesan sebelum puasa juga banyak dibatalkan, karena mereka tidak bisa mudik akibat adanya larangan dari pemerintah.

“Tahun ini tidak sama seperti tahun kemarin, tahun ini mengalami penurunan 50 pesen. Pelanggan saya tidak ada yang mudik jadi sangat pengaruh ke penjualan. Kita tidak bisa produksi banyak, dan sebagaian pegawai kita rumahkan dulu. Sebenarnya sebelum puasa sudah banyak yang order, tapi mendadak dibatalkan, karena tidak bisa mudik,” kata Kurnia Dwi Lestari, pemilik rumah industri kue kering, Minggu (10/5/2020) siang kepada Arahjatim.com.

Baca juga:

Kurnia menambahkan, jika kondisi normal seperti tahun sebelumnya pesanan kue kering bisa mencapai satu kuintal setiap harinya. Namun, kali ini meski sudah mendekati lebaran, ia hanya mampu memproduksi separuhnya, yaitu 500 kilogram tepung.

Meski demikian Kurnia Dwi Lestari yang sudah menggeluti usaha kue kering sejak sepuluh tahun lalu tersebut mengaku akan terus bertahan dan berjuang di tengah wabah pandemi Covid-19. Sebab usaha yang digeluti ini adalah warisan dari keluarganya yang harus dipertahankan.

“Ya biasanya kalau normal itu bisa produksi sampai satu kuintal tepung setiap harinya. Tapi sekarang gak bisa, paling separuhnya. Tapi gak apa-apa karena ini memang kondisinya begini, tetap saya pertahankan. Karena ini usaha warisan dari ibu saya sejak sepuluh tahun lalu,” kisah Kurnia Dwi Lestari.

Hari raya Idul Fitri identik dengan sajian kue kering khas lebaran seperti, opak gulung, kue bolu tape, kue grem, kue senyum, pia kacang dan lainnya. Selain dijadikan sajian lebaran, kue-kue tersebut biasanya juga dijadikan oleh-oleh bagi para perantau yang akan kembali ke tempat kerjanya di luar kota setelah lebaran.

Harga kue kering yang ditawarkan di pusat jajanan khas Banyuuwangi ini sangat bervariatif, mulai dari 10 hingga 25 ribu rupiah, tergantung jenis kue yang dibeli. Sedangkan satu bungkus opak gulung dijual 10 ribu rupiah, kue bolu tape dijual 17 ribu rupiah, dan kue grem dijual 25 ribu rupiah.

Pembeli mengaku memilih membeli kue karena tidak ingin direpotkan membuat kue sendiri di rumah. Selain itu, rasanya enak, harganya pun juga sangat terjangkau untuk kalangan orang bawah.

“Ini belanja kue kacang sama kue bolu untuk hari raya, setiap tahun beli di sini. Harganya murah, rasanya enak dan bisa melihat langsung proses pembuatan kuenya,” ujar Sofi, salah seorang pembeli kue.

Sementara itu, untuk tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19, usaha kue kering “ANISA” ini hanya mengandalkan pelanggan di sekitar wilayah Banyuwangi. Selain itu penjualan secara online juga akan terus dimaksimalkan. Para pengusaha kue rumahan berharap, pandemi Covid-19 segera berlalu agar usaha mereka bisa kembali normal seperti semula. (ful)