Tinjau Langsung Program di Ponpes Wali Barokah, Setwapres Apresiasi Penurunan Stunting Kota Kediri

oleh -
oleh

Kediri, ArahJatim.com —Tim Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) melakukan kunjungan kerja dalam rangka Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Percepatan Penurunan Stunting di Kota Kediri. Kunjungan ini sekaligus menjadi apresiasi atas prestasi membanggakan Kota Kediri yang dinilai sebagai kabupaten/kota berkinerja baik dan meraih Peringkat ke-2 di seluruh Indonesia dalam upaya penurunan stunting.

​Tim Setwapres yang dipimpin oleh Siti Alfiah (Plt. Asdep Kesehatan, Gizi dan Pembangunan Keluarga/KGPK) didampingi oleh Iing Mursalin (Team Leader), Alie Sadikin (Tenaga Ahli Advokasi), Kuswan (Tenaga Ahli Pengelolaan Pengetahuan), dan Joko Yulianto (Staf Administrasi) dari Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Sekretariat Wakil Presiden.

​Kota Kediri Raih Peringkat 2 Nasional

pasang iklan orange

​Alie Sadikin, Tenaga Ahli Advokasi TPPS Setwapres, menyampaikan kekaguman dan selamat atas capaian Kota Kediri.

​”Kota Kediri Peringkat 2 di seluruh Indonesia, mungkin prestasi kota ini juga tentunya bisa baik tanpa penjelasan dari bapak ibu… Kami mengucapkan selamat dan semoga prestasi ini bisa terus dijaga dan tentunya di negara bawah sehat ke depannya,” ujarnya.

​Kunjungan ini bertujuan untuk melihat langsung implementasi program penurunan stunting di lapangan, terutama di Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Barokah. Pihaknya ingin belajar dari Kota Kediri yang telah mendapat penghargaan peringkat kedua nasional untuk kabupaten/kota berkinerja baik.

​Hasil tinjauan lapangan menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Angka kejadian stunting di wilayah Posyandu yang dikunjungi telah turun dari 20-an lebih menjadi 14 untuk tahun ini. Ini berarti ada sekitar 10 orang yang terbebas dari stunting di wilayah tersebut.

​Tantangan dan Program Prioritas ke Depan

​Meskipun berprestasi, Alie Sadikin menekankan pentingnya peningkatan kinerja, terutama pada indikator-indikator yang masih terbilang cukup tinggi, seperti:

  • ​Imunisasi dasar
  • ASI eksklusif
  • ​MPASI

​Pihaknya menilai bahwa anggaran yang dialokasikan oleh Pemerintah Kota Kediri sudah cukup proporsional terhadap angka stunting. Ia juga menyinggung program dukungan dari pemerintah pusat terkait program MBG (Makan Bergizi Gratis – informasi dari search results mengarah ke Makan Bergizi) yang diharapkan menjadi solusi terhadap program yang terkena dampak efisiensi anggaran.

​Secara nasional, angka stunting masih di kisaran 19%.

​”Ini memang harus bekerja keras ya karena kita ke depannya pinginnya itu kan sampai 5 ke bawah, 5% ke bawah. Ini target di tahun 2030,” kata Alie Sadikin.

​Penurunan tahunan yang hanya sekitar 1% menuntut adanya percepatan melalui konvergensi program dan aksi yang dikoordinasi oleh Kemendagri bersama seluruh kabupaten/kota.

Kolaborasi Multisektor Kunci Sukses Kota Kediri

​dr. Muhammad Fajri Mubasysyir, MH.Kes, Kepala Dinas DP3AP2KB Kota Kediri, menegaskan bahwa Pemkot Kediri telah berupaya maksimal dengan kolaborasi semua Lini dan OPD (Organisasi Perangkat Daerah).

​”Kalau kita bicara stunting itu bukan dari urusan kesehatan bukan urusan DP3AP2KB, tapi semua Lini karena kita bicara tentang sanitasi, bicara konsumsi dan lain sebagainya,” jelasnya.

​Saat ini, terdapat sekitar 700-an balita stunting dari total 14.000 balita.

​Sementara itu, KH. Sunarto, Kepala Pondok Pesantren Wali Barokah, menyambut baik kunjungan tersebut. Ponpes Wali Barokah memiliki Posyandu Seruni yang berkomitmen penuh pada program pemerintah, dan kini diperkuat dengan adanya SPPG PNG (Satuan Pelaksana Penanggulangan Stunting dan Gizi Buruk/Penanganan Gizi).

​”Alhamdulillah dalam beberapa tahun terakhir ini tidak ada gejala-gejala yang mengarah kepada terjadinya stunting, khususnya di lingkungan keluarga Wali Barokah,” tutupnya. (das)

No More Posts Available.

No more pages to load.