Terlalu Sering Melakukan Aksi, Karyawan Es Krim Aice Didepak dari Perusahaan

oleh -

Jakarta, Arahjatim.com – Dampak dari para buruh PT Alpen Food Industry yang melakukan aksi mogok kerja lantaran upah yang tidak sesuai b erakibat pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan oleh pihak perusahaan kepada para buruh. Para buruh melakukan aksi dikarenakan upah yang terlampau sedikit serta keselamatan kerja yang tak memadai.

Juru bicara Federasi Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan (F-SEDAR) Sarinah mengungkapkan, pihak perusahaan telah menurunkan upah buruh. Awalnya, pada 2014-2016 PT AFI menjalankan bisnis dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 1520, atau biasa disebut dengan makanan yang terbuat dari susu.

Kemudian pada 2017 KBLI tersebut dirubah menjadi KBLI es krim. Hal itu berpengaruh pada nilai upah buruh yang mengalami penurunan dari upah sektor II menjadi upah minimum kota (UMK).

“Iya, jadi masalahnya itu awalnya kan karena penurunan upah,” katanya selaku pihak federasi yang membawahi Serikat Gerakan Buruh Bumi Indonesia (SGBBI) di PT AFI saat dihubungi oleh pihak media, dilansir dari detik.com Jumat (6/3/2020).

Terkait penurunan upah, jika mengacu pada upah minimum 2019, buruh telah kehilangan upah Rp 280 ribuan. Itulah, lanjut Sarinah, yang membuat buruh memutuskan berjuang dengan melakukan berbagai cara, termasuk mogok kerja yang dilakukan oleh para buruh agar perusahaan memberikan tambahan upah.

Namun, pihaknya mencatat, setiap tahun perusahaan hanya menaikkan upah sebesar Rp 5.000. Pada 2019, upah yang berlaku di PT AFI adalah UMK ditambah Rp 10 ribu. Pada gilirannya, perusahaan menaikkan upah karyawan. Hanya, sebagian besar buruh, yang merupakan operator produksi, dinilainya hanya merasakan manfaat kenaikan yang sangat kecil.

Sementara itu, pihak buruh hanya berharap mendapatkan tambahan upah Rp 280-300 ribu dari UMK.

“Mereka yang berusaha mengubah kondisi kerja malah di-PHK, termasuk yang hamil,” tambahnya.
(fik)