Malu Jadi Korban Bully di Medsos, Pengusaha Emas Asal Blitar Nyaris Bunuh Diri

oleh -
https://live.staticflickr.com/65535/49625570908_f252d45cbf_b.jpg
Choiruman menunjukkan beberapa akun palsu dan surat laporan ke polisi. (Foto: arahjatim.com/mua)

Blitar, ArahJatim.com – Menjadi korban bullying (perundungan) di media sosial Facebook, seorang pengusaha emas bernama Choiruman (31) warga Desa Kebonsari Kecamatan Garum Kabupaten Blitar mengaku berulang kali hampir bunuh diri, karena malu terhadap keluarga dan tetangganya.

Kejadian ini berawal di tahun 2019 lalu, saat ia menjalani usaha jual-beli anak ayam (khutuk). Ketika usahanya lancar dan besar, ada seorang pembeli dari Pekalongan yang meminta fotokopi identitas. Karena yang meminta pelangganya, tanpa curiga ia memberikannya.

“Beberapa hari setelah dimintai fotokopi identitas berupa KTP dan SIM itulah, muncul akun FB yang menggunakan foto profil dan identitas saya. Awalnya muncul dua akun, untuk melakukan aksi penipuan menjual anak ayam. Namun nomor rekening dan nomor handphonenya berbeda dengan punya saya,” jelasnya.

Choiruman mengetahui identitasnya disalahgunakan orang lain untuk menipu di FB, dari temannya. Dua akun palsu itu ia laporkan ke admin FB, kemudian dinonaktifkan.

“Namun (sejak itu) semakin banyak akun palsu yang memakai foto dan identitasnya. Saya sampai malu keluar rumah, karena akun palsu yang menggunakan identitas saya itu diunggah ke grup dan dikomentari ratusan orang. Bahkan sudah saya siapkan Baygon-nya, tapi melihat anak dan isteri (saya) tidak tega meninggalkannya. Ini beberapa kali terjadi,” akunya.

Karena makin banyak yang menggunakan akun atas namanya, akhirnya sekitar bulan Juni 2019 lalu, Choiruman membuat laporan ke Polres Blitar, tapi belum ada tindak lanjut.

“Saya benar-benar down, dan malu dituduh (sebagai) penipu, pembohong. Dua bulan saya tidak bekerja, hanya makan (dan) tidur,” keluhnya.

Sementara itu pihak Polres Blitar melalui Kasubag Humas, Kompol Misdi ketika dikonfirmasi mengenai laporan Choiruman menyatakan akan mengecek.

“Mohon waktu akan kami cek dulu ke Satreskrim, sejauh mana prosesnya,” jawab Kompol Misdi. (mua)