Kisah Dimas, Pegawai yang Sukses Raup Puluhan Juta dari Kebun Selada Hidroponik di Kediri

oleh
oleh

Berbekal belajar otodidak dan komunitas, petani milenial asal Pare ini buktikan pertanian modern bisa jadi bisnis menjanjikan dengan omzet hingga Rp30 juta per bulan.

Kediri, ArahJatim.com — Berawal dari petak lahan pertanian biasa, Adimas Ketut Nalendra (36) berhasil mengubah cara pandangnya terhadap dunia bercocok tanam. Pria yang akrab disapa Dimas ini kini sukses memoles lahannya di Dusun Tegalsari, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, menjadi ladang bisnis hidroponik yang amat menjanjikan.

​Menariknya, Dimas sama sekali tak punya latar belakang pendidikan di bidang pertanian. Kesehariannya pun dihabiskan sebagai pegawai di lingkungan Kementerian Pendidikan wilayah Blitar. Pengetahuan seputar hidroponik murni ia dapatkan secara otodidak dan hasil menimba ilmu bersama komunitas.

pasang iklan_rev3

​Namun, keterbatasan itu justru membawanya pada peluang besar. Dimas mampu membuktikan bahwa dengan pendekatan bisnis yang tepat, lahan terbatas pun bisa menghasilkan panen melimpah.

Banting Setir dari Konvensional ke Hidroponik

​Sebelum mantap menekuni hidroponik, lahan seluas 10 x 20 meter miliknya sempat ditanami jagung, kacang tanah, hingga sawi secara konvensional. Sayang, hasilnya jauh dari kata cukup.

​”Hasilnya waktu itu masih belum bisa untuk menghidupi pegawainya,” kenang mantan guru multimedia asal Desa Badas ini.

​Tak ingin terus merugi, Dimas memutar otak. Ia mulai beralih ke sistem hidroponik yang menurutnya jauh lebih terukur dan produktif.

Bahkan dari pengalamannya, hasil panen hidroponik bisa melesat hingga lima sampai enam kali lipat dibandingkan metode tanam biasa.

​Secara perlahan, ia mengatur pola tanamnya. Area yang tadinya fokus pada tanaman buah seperti melon, kini sebagian dialihkan untuk menanam selada keriting. Lewat pola ini, ia bisa mengamankan panen selada hingga 100 kilogram setiap minggunya, sementara tanaman buah dipanen rutin setiap bulan.

Diserbu Pasar Kuliner hingga Omzet Rp30 Juta

​Keputusan Dimas terbukti tepat. Kualitas sayur hidroponik yang bersih, segar, dan lebih tahan lama, bisa awet hingga seminggu jika disimpan dalam pendingin, langsung memikat para pelaku usaha kuliner. Pelanggan awalnya datang dari penjual gado-gado hingga kebab yang butuh pasokan sayur higienis.

​Tak berhenti di situ, pasar hidroponik Dimas kian melejit saat permintaan masuk dari SPPG. Jika sebelumnya ia biasa menyuplai 50 kilogram per minggu untuk pedagang kuliner, kini permintaannya melonjak drastis hingga 200 kilogram per minggu.

​Soal kantong, hasilnya tak main-main. Saat harga sayur sedang lesu di pasaran, dua petak lahannya masih mampu bersih menyumbang Rp10 juta hingga Rp12 juta per bulan. Namun, ketika permintaan sedang berada di puncaknya, seperti momen pasca-Lebaran, Dimas pernah mengantongi omzet hingga Rp30 juta dalam sebulan dengan total panen menembus 500 kilogram seminggu.

Ogah Perang Harga, Utamakan Kualitas dan Loyalitas

​Tentu, perjalanan ini tak lepas dari ujian. Fluktuasi harga pasar kerap membuat petani ketar-ketir. Namun, Dimas enggan mengambil opsi perang harga dengan petani konvensional.

​”Kalau kita mau perang harga, kita akhirnya yang kalah. Kita hanya mencari konsumen-konsumen yang loyal,” tegasnya.

​Bagi Dimas, petani konvensional punya keunggulan dari segi luas lahan dan biaya produksi yang lebih murah. Oleh karena itu, ia memilih menjual nilai tambah yang tidak dimiliki sayur biasa: kebersihan, kesegaran, dan jaminan kualitas.

​Tangan dinginnya juga diuji oleh berbagai tantangan operasional. Mulai dari perawatan intensif yang wajib dilakukan setiap hari, cuaca ekstrem yang memicu timbulnya hama, hingga melejitnya harga pupuk non-subsidi untuk tanaman hidroponik. Seluruh kendala tersebut menuntutnya untuk terus mengasah manajemen usaha, efisiensi bahan, hingga pengelolaan tenaga kerja.

​Kini, dari yang semula berawal dari coba-coba, Dimas sudah mengelola beberapa titik kebun hidroponik khusus selada dan melon. Ke depan, pria yang konsisten belajar ini berencana membuka lahan baru sekaligus mengeksplorasi varietas tanaman lain untuk terus memperbesar skala bisnisnya. (das)

No More Posts Available.

No more pages to load.