Terkait Kepulangan 23 Mahasiswa dari Cina, Dinkes Banyuwangi Lakukan Ini

oleh -
https://live.staticflickr.com/65535/49519876877_65704ac029_b.jpg

Banyuwangi, ArahJatim.com – Terkait kepulangan 23 mahasiswa asal Banyuwangi yang kuliah di Cina akibat merebaknya virus corona, Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, akan melakukan pemantauan kondisi kesehatannya. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan mengantisipasi penyebaran virus corona yang begitu cepat.

Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Wiji Lestariono menuturkan, pemantauan terhadap puluhan mahasiswa ini melibatkan tim medis puskesmas dimana  para mahasiswa berasal. Dalam pemantauan tim medis akan memeriksa kesehatan para mahasiswa, terutama suhu badan. Sebab ciri-ciri utama gejala virus corona salah satunya  adalah suhu badannya cukup tinggi.

“Terkait pulangnya 23 mahasiswa dari Cina, kita akan lakukan surveillance terhadap mereka. Adapun mereka sudah sampai di Banyuwangi tentunya sudah melalui pemeriksaan. Tetapi kita tetap lakukan surveillance ke depan. Nanti 23 mahasiswa itu pasti tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Banyuwangi. Kita akan lakukan surveillance di puskesmas masing-masing, dan nantinya mahaiswa itu akan dipantau terus oleh tim medis puskesmas,” ujar Rio, sapaan akrab Wiji Lestariono kepada wartawan, Senin (10/2/2020).

Rio  menambahkan, meski puluhan mahasiswa tidak menempuh pendidikan di Kota Wuhan yang ditengarai munculnya virus corona, akan tetapi kebijakan Kementerian Kesehatan mereka harus dilakukan pemantauan kondisi kesehatannya. Selain itu, seluruh masyarakat Indonesia yang datang dari Cina, juga harus mendapatkan penanganan kesehatan.

Baca juga:

Pihaknya juga akan berkordinasi dengan rumah sakit umum daerah (RSUD) Blambangan, apakah ke 23 mahasiswa tersebut perlu dilakukan observasi atau tidak.

“Meski 23 mahasiswa asal Banyuwangi tidak kuliah di Wuhan, kebijakan dari Kementerian Kesehatan, mereka harus dipantau kesehatannya. Kita akan koordinasi dengan RSUD Blambangan apakah mereka perlu diobservasi,” pungkas Rio.

Sebelumnya, sebanyak 23 mahasiswa asal Banyuwangi, yang sedang menempuh pendidikan  di Nanjing University Information Science Tecnology (NUIST), dan Ningbo University of Tecnology (NBUT) Cina, memilih pulang kampung dengan biaya pribadi. Selain atas desakan orang tauanya yang kawatir akan kondisi kesehatan, mereka memutuskan menunda studinya akibat merebaknya virus corona yang mematikan.

Untuk mengisi kekosongan waktu, delapan dari 23 mahasiswa yang kuliah di Cina saat ini memilih belajar bersama di lembaga pembelajaran Desy Education yang memfasilitasi mereka mendapatkan besiswa menempuh pendidikan secara gratris ke luar negeri.

Hingga saat ini ke-23 mahasiswa masih belum mengetahui secara pasti kapan mereka akan kembali ke negara Cina untuk melanjutkan studinya. Sebab Pemerintah Indonesia masih menutup sementara akses penerbangan ke Cina. Selain itu pihak kampus di Cina juga belum memberikan kepastian kapan mereka diperbolehkan kembali ke negara itu. (ful)