Takut Terjangkit Corona, 23 Mahasiswa Asal Banyuwangi Pulang Kampung dari Cina

oleh -
https://live.staticflickr.com/65535/49508753573_0ce2742de2_b.jpg

Banyuwangi, ArahJatim.com – Sebanyak 23 mahasiswa asal Banyuwangi, yang berkuliah di negara Cina memilih pulang dan memutuskan untuk menunda kembali ke negara itu akibat merebaknya virus corona. Mereka memilih pulang ke Indonesia dengan biaya pribadi karena desakan orang tua yang khawatir akan bahayanya virus mematikan tersebut.

Dari puluhan mahasiswa yang tiba di Banyuwangi, rata-rata berkuliah di Nanjing University Information Science Technology (NUIST) dan Ningbo University of Technology (NBUT). Untuk mengisi kekosongan waktu, delapan dari 23 mahasiswa yang berkuliah di Cina memilih belajar bersama di lembaga pembelajaran Desy Education di Banyuwangi yang memfasilitasi mereka mendapatkan beasiswa menempuh pendidikan gratis ke luar negeri.

“Sementara sambil belajar di rumah, pihak kampus sana juga menyediakan belajar online. Semua yang pulang sudah dinyatakan aman dari virus. Karena saat keluar kampus maupun di bandara mereka melalui pemeriksaan ketat. Kalau mereka terjangkit tentunya mereka harus diisolasi. Pihak kampus di Cina sana juga sudah mengizinkan mereka pulang, malah meminta mereka untuk menunda dulu kembali ke Cina sampai kondisinya benar-benar aman,” kata Handoyo Saputro, Direktur Desy Education.

Baca juga:

Dari informasi yang peroleh mahasiswa asal Banyuwangi dari rekannya yang masih ada di Cina, pengamanan yang dilakukan pemerintah setempat agar virus corona tidak semakin menyebar luas semakin ketat. Setiap ada tamu yang keluar masuk kampus, ataupun asrama akan dicek dulu suhu tubuhnya sekaligus didata identitasnya.

Bahkan mahasiswa yang ada di dalam kampus tidak diperkenankan berinteraksi dengan mahasiswa maupun warga yang berasal dari Wuhan. Penjagaan ekstra ketat itu dilakukan untuk memastikan agar para mahasiswa tidak sampai terkontaminasi virus corona.

“Kalau ketahuan ada yang keluar kampus tanpa izin atau bertemu dengan orang dari Wuhan, kata teman saya di sana mereka langsung ditangkap polisi. Memang ketat penjagaannya sekarang, agar mahasiswa tidak tertular virus. Di Ningbo sekarang sudah ada sekitar 140 lebih orang terjangkit virus corona. Yang terakhir itu ada temuan satu orang jauh dari apartemen saya juga terjangkit virus corona, dan langsung diisolasi. Saya masih belum tahu kapan balik lagi ke Cina, masih menunggu perintah dari pihak kampus, kalau sudah aman, kami diperbolehkan kembali ke sana,” ungkap Desi Putri Wulandari, warga Desa Wonosobo yang mengambil program pascasarjana di Ningbo University, Cina.

Faris Azhar Khan, mahasiswa warga Kelurahan Kepatihan, Banyuwangi yang berkuliah di Nanjing University menuturkan, kondisi jalan raya di sana saat ini juga sudah mulai sepi, pengamanan sangat ketat. Situasi dan kondisi tersebut yang memaksa mereka memilih pulang kampung daripada mereka harus terisolasi di dalam kampus.

“Selain itu, orang tua saya juga khawatir saat saya masih di Cina, takut saya terkena virus, makanya saya ditelepon terus disuruh pulang. Akhirnya saya sampai di Banyuwangi tadi pagi,“ ujar Faris kepada sejumlah wartawan, Minggu (9/2/2020).

Hingga saat ini ke-23 mahasiswa masih belum mengetahui secara pasti kapan mereka akan kembali lagi ke Cina untuk melanjutkan kuliahnya-nya. Selain karena pemerintah Indonesia masih menutup akses penerbangan ke negeri Cina, pihak kampus di Cina sendiri juga masih belum bisa memberikan kepastian, kapan mereka boleh kembali ke Cina. Mungkin setelah kondisi di Cina dinyatakan benar-benar kondusif.

“Apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah Cina kepada anak kami sudah baik, tapi saya khawatir. Jadi sebagai langkah preventif, ya lebih baik pulang dulu ke Banyuwangi sambil menunggu perkembangan ke depannya. Kalau sudah aman, ya boleh kembali lagi,” ujar Taufik, salah satu orang tua mahasiswa yang menempuh pendidikan di Cina. (ful)