ArahJatim.com – Jarum jam menunjukkan pukul 05.30 WIB. Sahut-menyahut suara ayam jantan berkokok mulai terdengar memecah kesunyian pagi Desa Dlanggu. Pancaran cahaya sang surya mulai menerangi kawasan yang berjarak sekitar 3 kilometer (km) dari area perkotaan tersebut.
Sayup-sayup suara sapaan dan gurihnya candaan warga sekitar pun mulai terdengar. Pun demikian dengan bunyi mesin kendaraan bermotor yang seakan sahut-sahutan. Ada juga yang memilih berjalan kaki untuk memulai aktivitasnya. Seakan menjadi sambutan selamat pagi oleh warga sekitar.
Terlihat, dua orang saling berpapasan dengan kendaraan roda duanya saat melahap jalan beton area desa yang begitu rata. “Hoii, budal ngeterno iwak sek nak pasar. Mari teko juragan tambak (berangkat antar ikan dulu ke pasar. Habis dari pengusaha tambak),” ujar Nasih, 50, salah seorang warga. Ajakan bapak satu anak itu pun dijawab dengan anggukan oleh pengendara di sampingnya.
Sembari membawa 2 keranjang ikan, Bapak satu anak itu bergegas mendahului rekannya yang sama-sama membawa keranjang ikan atau tembresan. Ya, aktivitas warga Desa Dlanggu bermacam-macam. Mulai dari pelajar sekolah, bekerja swasta, negeri, hingga sebagai wirausaha. Namun, Desa itu juga dikenal akan usaha perikanan tambak dan pertaniannya.
Hal itu akan terlihat begitu melintasi kawasan tersebut. Ya, area lahan tambak dan sawah terhampar luas seakan mengikuti arah mata memandang. Pemandangan itu bak obyek wisata tersendiri bagi mata saat melihatnya. Tak hanya dimanjakan oleh panorama sawah dan tambak, hamparan sungai jernih di sepanjang sisi samping jalan desa menjadi pelengkapnya.
“Saat akan musim hujan kebanyakan mulai panen ikan tambak. Begitu masuk kemarau, perlahan pada ganti sawah,” kata Wiya, 48, warga sekitar. Dia menjelaskan usaha tambak dan sawah itu merupakan salah satu jenis mata pencaharian warga Desa. Keuntungan yang diperoleh jika berhasil panen pun bisa dikatakan cukup memenuhi kebutuhan hidup.
Kondisi itu juga berdampak pada pembangunan dan perekonomian desa. Kehidupan sosial masyarakat sekitar sudah cukup maju dalam kedua hal tersebut. Bahkan, bisa disebut sebagai Desa swasembada. Produktivitas cukup tinggi dan sarana prasarana desa telah modern.
Selain memberi keuntungan bagi pemilik lahan, juga memberikan lapangan pekerjaan bagi warganya. Mulai perawatan lahan tambak maupun sawah sampai dengan bantu penjualan ke pasar. Baik kalangan pengusaha atau pekerjanya terkesan kompak satu sama lain saling bergotong royong.
Keajegan warga Desa itu sudah tertanam sejak lama mulai nenek moyang mereka. “Kami memang seperti ini. Saling bersyukur. Di satu sisi para pemilik usaha tambak untung, pekerja juga kecipratan rezeki,” ujarnya.
Pemanfaatan lahan produktif semacam itu sejatinya dapat dilakukan desa yang memiliki karakteristik sama dengan Desa itu.
Meski, tidak semua lahan dapat dijadikan tambak dan sawah secara bergantian. Tapi, jika salah satu sektor tersebut dijaga tetap produktif dapat juga menjadi sumber pendapatan bagi warga sekitarnya. Hal itu bisa menjadi alternatif jika aset berupa lahan yang dimiliki tidak cocok untuk diperjual belikan ataupun dijadikan lahan kavling.
Oleh : R Aufar Dhani H






