ArahJatim.com – Sebagai anak yang dibesarkan dari keluarga Madura, Sarip memiliki perspektif ala masyarakat Madura. Seperti halnya rasa makanan, intonasi berbicara, caranya bersikap kepada orang lain. Caranya bersosial kurang lebih banyak menyerap dari bagaimana orang Madura berperilaku.
Beranjak dewasa tak membuatnya kehilangan jati diri sebagai putra daerah. Logatnya pun masih kental, khas penekanan pada beberapa kata yang dianggap orang luar itu legitimasi orang-orang Madura. Misal ini misal “Adda mas disanna yang jual rujjak,” begitu cara membedakannya. Bahkan sesama putra daerah, waktu pertama kali jumpa, Rosyid seketika menegurnya, Madura mas ya. Sebuah identifikasi rasa dan wajah yang tak bisa dielakkan.
Sarip mencoba memahami saudara-saudaranya yang memiliki kebiasaan menjadi perantau. Bertaruh nasib di kota besar, menjadi masyarakat kelas bawah pun tak mengapa, toh di Madura juga tak menjanjikan. Lahan gersang, industri masih ghaib, tambang pun masih di angan-angan. “Ya, ittu yang mungkin jadi sallah banyak hal yang membuat Trettan bannyak pergi kelluar kotta,” begitu ucap Sarip di dalam hati. Bak cerita sinetron.
Saudara-saudara Sarip juga tak punya malu. Dalam tanda kutip suka melampaui ekspektasi manusia kebanyakan. Cobalah tes mereka dengan bahasa asing. Cepatnya mereka mempelajari kosakata baru saat menjadi perantauan. Meski tak lancar dan terkesan lucu, itu tak masalah bagi mereka. Yang penting bagi mereka bisa membaur dengan penduduk asli di kota dimana mereka tinggal. Begitu mereka memiliki prinsip. Kalau bahasa akademisnya, mereka memahami kosmologi alam semesta. Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Mereka nampaknya memahami itu. Tapi itu ditentang teman-teman Sarip yang mengatakan, loh, bangsamu itu memiliki ciri khasnya. Yaitu Maunya menang sendiri. “Itu representasi bangsamu Rip, sumpah. Coba lihat bos parkiran di kota-kota besar ini. Pasti bangsamu Rip,” keluh teman Sarip.
Fenomena sosial lain yang sering dianggap representasi Manusia Madura itu tidak taat aturan lalu lintas. Mereka menganggap keselamatan semua yang melintas di jalan raya tergantung skill masing-masing. “Wah, buat appa lampu merrah itu. Tidak penting,” begitu biasanya mereka menggerutu. Keautentikan itu yang membuat mereka lucu, menggemaskan, menggelikan, terkadang kasar.
Jangan lupa, cara mengidentifikasi mereka juga bisa dilihat dari caranya berpakaian. Outfit mereka biasanya terkesan bikin mata silau melihatnya. Warna cerah, model Maduranis style, dan perhiasan bak Cleopatra. Ya, sang Ratu penguasa Mesir itu. Mungkin perempuan Madura terinspirasi dari sang Ratu.
Oleh : Oelfi Febrianti Arifin










