Kediri, ArahJatim.com – Suasana khidmat menyelimuti Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri pada Selasa (18/8/2026). Puluhan warga bersama tokoh masyarakat, lintas agama, akademisi, hingga perwakilan pemerintah berkumpul dalam agenda Doa Bersama, Tabur Bunga, dan Sarasehan Refleksi Kebangsaan di pusara Pahlawan Nasional, Ibrahim Datuk Tan Malaka.
Momen peringatan jasa sang pahlawan ini menghadirkan kesejukan tersendiri. Berbagai elemen masyarakat hadir membaur tanpa sekat, mulai dari warga lokal, Perangkat Desa Selopanggung, Modin se-Kecamatan Semen, Paguyuban Kades, hingga unsur Forkopimcam Semen.
Dukungan pemerintah daerah juga terlihat lewat hadirnya perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kediri. Tak ketinggalan, jajaran ormas Islam seperti NU, LDII, dan Muhammadiyah, serta tokoh umat Kristen setempat turut beranjak bersama dalam balutan silaturahmi.
Merajut Indonesia dari Kebhinnekaan
Kehadiran lintas elemen dan lintas agama dalam kegiatan ini menegaskan kembali pesan dasar tentang persatuan bangsa. Tokoh muda Kediri, Agus Mahrus Aly, yang akrab dipanggil Cak Ebel, menyoroti betapa indahnya kebersamaan yang terjalin di kaki Gunung Wilis tersebut.
Cak Ebel, yang merupakan putra dari KH. An’im Falachuddin Mahrus sekaligus cucu dari ulama kharismatik Mbah Yai Mahrus Aly Lirboyo, menegaskan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk saling merangkul dalam bingkai kemanusiaan.
”Kita boleh berbeda dalam keyakinan, namun tetap bersatu dalam kebangsaan dan bersama-sama dalam urusan kemanusiaan,” ujar Cak Ebel di sela-sela kegiatan.
Menurutnya, ruang-ruang perjumpaan seperti ini sangat penting untuk terus dirawat agar Indonesia yang majemuk tetap kokoh. “Di sinilah pentingnya kita membangun dan merajut Indonesia dari keberagaman menuju Indonesia yang utuh, Indonesia yang menjadi milik kita bersama,” tambahnya.
Menjawab Tantangan Zaman lewat Keteladanan
Sementara itu, dari unsur akademisi, Dosen Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri, Dr. Nur Solikin, menyampaikan bahwa kegiatan ziarah dan refleksi ini merupakan wujud kesadaran anak bangsa dalam menghargai jasa pahlawan.
”Kemerdekaan adalah upaya sadar para pendahulu kita untuk memastikan kehidupan berbangsa dan bernegara yang berdaulat, berdiri di atas kaki sendiri. Kemerdekaan ini adalah warisan sekaligus tanggung jawab bersama,” ungkap Dr. Nur Solikin.
Ia mengingatkan bahwa tantangan bangsa hari ini dalam menyongsong Indonesia Emas 2045 jauh berbeda dibanding masa pra-1945. Penjajahan tidak lagi berbentuk fisik, melainkan hadir melalui arus media sosial, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), hingga ketimpangan sosial.
”Tantangan modern ini menuntut kita bertanya pada diri sendiri: apakah kita benar-benar sudah bebas? Melalui refleksi yang diilhami perjuangan Tan Malaka, kita diajak memikirkan kontribusi nyata apa yang bisa kita berikan agar Indonesia tetap bermartabat, berdaulat, dan sejahtera,” jelasnya.
Menjaga Semangat Perjuangan
Rangkaian acara ditutup dengan tabur bunga di makam Tan Malaka serta diskusi santai antar-tokoh dan warga. Melalui doa bersama ini, masyarakat Selopanggung dan segenap tokoh Kediri berharap api perjuangan serta persatuan yang diwariskan para pahlawan tetap menyala di sanubari generasi penerus. (das)










