Jakarta, ArahJatim.com – Dukungan moral mengalir dari budayawan nasional Sujiwo Tejo untuk agenda Ruwatan Negara, yang akan digelar di Situs Persada Soekarno, Kediri, pada 18 Agustus 2025. Dalam pertemuan hangat di Jakarta, Sujiwo Tejo menyatakan ketertarikannya terhadap semangat dan visi acara tersebut menjadikan Indonesia sebagai mercusuar perdamaian dunia.
Pertemuan itu berlangsung jauh dari formalitas.
Meski awalnya dijadwalkan hanya dua jam, diskusi antara Sujiwo Tejo dan panitia Ruwatan Negara justru berlanjut lebih dari empat jam. “Pembicaraannya membumi sekaligus visioner,” ungkap Budiono, anggota tim media panitia
Indonesia Perlu Gagasan Besar
Menurut Sujiwo Tejo, Indonesia saat ini terlalu sibuk pada rutinitas kecil dan kepentingan sempit. Karena itu, ide Ruwatan Negara yang berangkat dari Kediri tanah kelahiran Bung Karno harus dijaga dan diperjuangkan.
“Indonesia harus punya gagasan besar seperti ini,” pesan Sujiwo Tejo yang dikenal konsisten menggaungkan nilai-nilai budaya dan kebangsaan.
Ketua Harian Situs Persada Soekarno, Kus Hartono, menuturkan bahwa Sujiwo Tejo menyambut hangat kedatangan panitia dan secara langsung memberikan sejumlah masukan konstruktif. Salah satunya: agar panitia mengundang tokoh-tokoh nasional lintas bidang.
Respon Positif dari Tokoh Bangsa
Tak menunggu waktu lama, panitia segera menindaklanjuti saran tersebut. Surat dikirimkan kepada sejarawan kenamaan Prof. Anhar Gonggong, yang kemudian menyatakan kesediaannya untuk hadir. Komunikasi juga dilakukan dengan Universitas Bung Karno dan Kementerian Kebudayaan untuk menghadirkan ahli hukum tata negara serta pejabat terkait.
“Kami ingin memastikan bahwa gagasan besar ini tidak hanya menyala di Kediri, tetapi menggema ke seluruh penjuru negeri,” ujar Lukito Sudiarto, salah satu penggagas Ruwatan Negara.
Wayang Gandrung dan Spirit Bung Karno
Sujiwo Tejo juga menyatakan kekagumannya terhadap Bung Karno. Baginya, Sang Proklamator adalah sosok dengan visi besar namun tetap peduli pada hal-hal kecil—sebuah karakter langka dalam kepemimpinan.
Tak hanya itu, sang budayawan juga menyampaikan minatnya untuk menyaksikan langsung pertunjukan Wayang Gandrung, salah satu ikon spiritual dan budaya khas Kediri, yang akan ditampilkan dalam acara tersebut.
“Insya Allah beliau akan hadir jika tidak ada halangan. Beliau pernah bilang sangat ingin melihat langsung Wayang Gandrung,” ungkap Kus Hartono.
Agenda Sakral dan Penuh Makna
Ruwatan Negara akan digelar sehari setelah peringatan Hari Kemerdekaan RI, dengan serangkaian kegiatan bernuansa spiritual dan kebudayaan. Mulai dari kirab budaya, ujub donga, doa lintas agama, sarasehan kebangsaan, hingga pertunjukan seni budaya.
Dari tanah sejarah, semangat Ruwatan Negara menyuarakan harapan agar Indonesia tak sekadar besar secara geografis, tapi juga secara gagasan dan jiwa. (das)










