Surabaya, 08 November 2025 – Di tengah hiruk pikuk kota, sebuah kolaborasi apik antara Mawar Sharon Peduli (MSP), Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), dan Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis Media (FIKOM) Universitas Ciputra Surabaya sukses menyentuh hati warga Rusun Grudo. Bukan sekadar bagi-bagi sembako atau pemeriksaan gigi gratis, kegiatan perdana ini menjadi studi kasus nyata bagaimana komunikasi menjadi kunci utama keberhasilan program pengabdian masyarakat.
Kupon Datang Langsung ke Pintu: Kekuatan Komunikasi Personal
Keberhasilan menjaring ratusan penghuni, mulai dari lansia hingga keluarga muda, ternyata bukan hasil blast pengumuman digital. Strategi kuncinya adalah komunikasi interpersonal berbasis kepercayaan.
Ketua Paguyuban Rusun Grudo berperan vital sebagai jembatan. Informasi disampaikan secara tatap muka, dari pintu ke pintu.
“Dapat informasi dari paguyuban, pengelola. Pas saya shalat Dhuhur, pintu saya diketuk dan diberikan kupon untuk sembako dan periksa gigi gratis,” tutur Ibu Nurul Hidayah, salah seorang warga.
Pendekatan personal ini terbukti efektif menembus sekat formalitas, menumbuhkan rasa nyaman, dan memicu partisipasi. “Waktu kita sampaikan ke PIC atau ketua rusun, mereka menyambut dengan baik sekali, dan ini pertama kali juga untuk mereka bekerja sama dengan kita, MSP,” jelas Chandra, salah satu relawan MSP, menggambarkan sambutan yang penuh antusiasme.
Karies dan Edukasi: Program Berbasis Kebutuhan Nyata
Fokus program ini adalah pemeriksaan gigi gratis, yang ternyata dilatarbelakangi oleh temuan serius. Meskipun dekat dengan Puskesmas, layanan dokter gigi spesialis tidak tersedia.
Hasil observasi tim medis cukup mengkhawatirkan. Drg. Antonius Adwin Sutikno, Sp.Pros., M.Kes., pemimpin tim dokter, mengungkapkan:
“Banyak warga yang mengalami karies, gigi patah, hingga kehilangan gigi, tetapi mereka cenderung menunda perawatan karena alasan ekonomi.”
Kondisi ini menegaskan bahwa kegiatan di Rusun Grudo bukan hanya charity sesaat, melainkan bentuk community empowerment dan media edukasi vital tentang pentingnya perawatan preventif sejak dini.
Ketika Komunikasi Menjadi Obat Perubahan Perilaku
Dr. Hilda Yunita Wono, S.I.Kom., M.Med.Kom., pakar komunikasi dari FIKOM UC, menyoroti peran strategis bidangnya. Keberhasilan kegiatan sosial tidak hanya diukur dari logistik, tetapi dari cara pesan disampaikan.
“Tidak semua warga mudah menerima hal baik. Diperlukan proses komunikasi yang tepat agar mereka merasa nyaman untuk hadir dan terlibat. Setelah itu, komunikasi edukatif menjadi penting untuk membantu mengubah pola pikir dan kebiasaan agar lebih sehat dan berkelanjutan,” jelas Dr. Hilda.
Intinya, fungsi komunikasi bergeser dari sekadar penyebar informasi menjadi fasilitator perubahan perilaku sosial.
Kegiatan ini membuktikan bahwa dengan kolaborasi antara tenaga medis yang memberikan manfaat kesehatan dan komunikator yang membangun jembatan kepercayaan, lahirlah dampak sosial yang humanis, empatik, dan berkelanjutan. Rusun Grudo kini memiliki cerita baru: bahwa senyum sehat dapat terwujud ketika hati telah terpaut oleh komunikasi yang tulus. (das)











