Buku tersebut mengulas sisi lain sosok Ryan yang belum banyak diketahui masyarakat. Seperti mengungkap tabir, apa motif yang sesungguhnya Ryan membantai 11 korbannya, yang terdiri dari sembilan korban laki-laki dan dua korban perempuan. Dimana tersebar kabar bahwa kesadisan Ryan begitu mengerikan hingga diganjar vonis hukuman mati.
“Kami menuliskan dari hasil peliputan investigasi selama ini, karena saya mencoba memahami bahwa kita sebagai manusia punya dua sisi. Seburuk-buruknya orang masih ada baiknya dan sebaik-baiknya orang masih ada buruknya, sama dengan Ryan. Dari benang merah yang kita sepakati bahwa dari 11 korban pembunuhan tidak ada satupun yang bermotif ekonomi. Jadi tidak ada Ryan membunuh para korbannya (karena) mengincar hartanya, tetapi penghilangan barang (barang bukti kejahatan Ryan-red) itu untuk menghilangkan jejak,” ungkap Noor Arief, satu dari dua penulis buku ini.
Pernyataan senada ditambahkan oleh Doan Widhiandono. Dalam hasil investigasi peliputannya, alasan Ryan melakukan pembunuhan terhadap 11 orang korban didasari oleh permasalahan keluarga, mulai dari perselingkuhan secara terang-terangan yang dilakukan kedua orangtua Ryan di hadapan pelaku, hingga cara mendidik anak mulai masa kecilnya atas pembentukan perilaku Ryan yang begitu membenci sebuah ketidaksetiaan.

“Dari situlah kita menemukan angle-nya untuk kita garap selama 40 edisi dalam 40 hari investigasi. Ada yang bertanya pada saya bagaimana mengetahui kalau Ryan sekarang benar-benar bertobat?, ya saya jawab saya tidak tahu. Yang saya ceritakan di peliputan, saya menggambarkan fakta-fakta secara simbol-simbol yang jelas keseharian Ryan selama di penjara Gunung Sindur. Saya menggambarkan fakta-fakta Ryan berkopyah, ada tanda hitam di dahinya, dan Ryan diwisuda hafiz, dokumentasi Ryan ikut pengajian, dokumentasi Ryan ikut bagi-bagi takjil selama bulan puasa Ramadan,” ungkap Doan.
Di buku ini, lanjut Doan, tidak ada tulisan penghakiman, tidak ada penggambaran hidup baru Ryan. “Buku ini menggambarkan kehidupan Ryan sekarang. Cara berpakaian, cara bicaranya masih tertata dan aktivitas Ryan di penjara yang juga diverifikasi keluarganya. Kita tidak meminta pembaca untuk menyimpulkan, oh Ryan sak iki wes dadi wong apik (oh Ryan sekarang jadi orang baik-red), ya terserah saja pembaca menyimpulkan seperti apa?,” imbuh Doan.
Launching dan bedah buku “RYAN, Transformasi sang jagal Jombang” di kampus STIKOSA-AWS tersebut berlangsung secara hybrid (luring dan daring) yang ditayangkan secara online di akun media sosial STIKOSA-AWS.
Acara peluncuran dan bedah buku ini dibuka langsung oleh Ketua STIKOSA-AWS, Meithiana Indrasari dan dihadiri oleh Eko Pamuji selaku Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, sivitas akademika STIKOSA-AWS serta masyarakat umum, baik secara luring maupun daring. (*)











