Kediri, ArahJatim.com – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam berbagai elemen organisasi menggelar aksi damai di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Wasil Kediri pada Rabu (20/5/2026). Dalam aksi turun ke jalan tersebut, massa membawa empat tuntutan utama yang ditujukan langsung kepada pihak rektorat, mulai dari isu independensi akademik hingga persoalan fasilitas kampus.
Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Sabilul Haq, menegaskan bahwa gerakan ini lahir dari rasa kepedulian yang mendalam dari para mahasiswa terhadap kondisi iklim akademik saat ini. Menurutnya, wilayah kampus harus tetap dijaga kesuciannya sebagai ruang yang netral dan bebas dari tekanan pihak luar.
”Tuntutan pertama kami adalah menolak segala bentuk intervensi di ruang akademik. Kampus merupakan tempat paling objektif untuk membedah realitas sosial di masyarakat, sekaligus wujud nyata dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi,” ujar Sabilul di sela-sela aksi.
Soroti Beasiswa KIP-K dan Desak Pembaruan SK Kekerasan Seksual
Selain isu kebebasan berpikir, massa aksi juga menyoroti regulasi internal dan penyaluran bantuan pendidikan. Mahasiswa menilai program beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) di UIN Syekh Wasil Kediri masih rawan salah sasaran. Sabilul mengungkapkan, timnya telah mengantongi sejumlah data dugaan ketidaksesuaian penerima yang memerlukan evaluasi mendasar dari pihak rektorat.
Poin krusial lain yang disuarakan adalah tuntutan pembaruan Surat Keputusan (SK) penanganan kekerasan seksual di kampus. Aturan yang saat ini berlaku dinilai sudah kedaluwarsa karena masih mengacu pada regulasi tahun 2020.
”Kami mendesak adanya pembaruan SK penanganan kekerasan seksual agar lebih aplikatif, responsif, dan relevan dengan kondisi riil kampus saat ini,” kata Sabilul menambahkan.
Keluhkan Fasilitas Kampus dan Pengelolaan Sampah
Tidak hanya menyangkut kebijakan besar, demonstrasi yang diikuti oleh sekitar 250 mahasiswa ini juga membawa keresahan sehari-hari civitas akademika. Mereka meminta perbaikan kualitas layanan informasi publik, pemerataan fasilitas belajar, optimalisasi kamera pengawas (CCTV), hingga evaluasi berkala terhadap kinerja para dosen.
Isu lingkungan ikut menjadi sorotan tajam. Hingga kini, UIN Syekh Wasil Kediri dinilai belum memiliki sistem tempat pembuangan sampah mandiri yang representatif, sehingga kerap memicu penumpukan sampah pasca-kegiatan kemahasiswaan.
”Kami mendambakan ekosistem belajar yang sehat dan hijau. Sampah tidak boleh lagi menjadi masalah menahun, melainkan harus dikelola dengan baik sebagai indikator bahwa kampus ini mampu menciptakan lingkungan perkuliahan yang ideal,” tegas Sabilul.
Ia juga menambahkan bahwa aksi ini merupakan hasil kajian mendalam selama dua bulan penuh dan menjadi gerbang awal pengawalan isu ke depan.
Respons Pihak Rektorat UIN Syekh Wasil Kediri
Menanggapi gelombang aspirasi tersebut, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Syekh Wasil Kediri, Dr. Taufik Alamin, memberikan apresiasi atas jalannya aksi yang tertib. Pihaknya memandang demonstrasi ini sebagai bagian dari dinamika kebebasan akademik yang patut dihormati.
”Kebebasan akademik sangat penting untuk menyuarakan keluhan di lingkungan kampus. Apalagi, adik-adik mahasiswa sejak awal telah mengikuti prosedur dengan memberikan surat pemberitahuan resmi,” tutur Taufik.
Menjawab persoalan penanganan kekerasan seksual, Taufik mengimbau kepada mahasiswa maupun korban untuk tidak ragu melapor melalui jalur resmi yang telah disediakan kampus demi kerahasiaan dan objektivitas penanganan.
”Jika ada korban atau yang merasa dilecehkan, silakan langsung melapor secara resmi melalui PPID agar data lebih aman, netral, dan bisa segera kami proses secara hukum dan kode etik,” jelasnya.
Terkait perbaikan mutu pengajaran dan fasilitas, Taufik mengeklaim bahwa pihak kampus sebenarnya telah menjalankan mekanisme Evaluasi Dosen oleh Mahasiswa (EDOM) di setiap akhir semester sebagai bahan rapat evaluasi mutu.
Meski demikian, manajemen kampus berjanji akan segera merealisasikan sejumlah pembenahan fisik penunjang dalam waktu dekat.
”Kami dari pihak rektorat berkomitmen untuk melakukan pembenahan fasilitas, termasuk peningkatan akses layanan informasi publik dan perbaikan sistem keamanan melalui jaringan CCTV di seluruh area kampus,” pungkas Taufik. (das)










