Rusak Situs Cagar Budaya, Pemugaran Makam Agung Terancam Pidana?

oleh -
CAGAR BUDAYA. Kondisi Batur Makam Agung kompleks Pangeran Pragalba yang rusak akibat pemugaran.

Bangkalan, ArahJatim.com – Pemugaran situs Makam Agung di desa Makam Agung Kecamatan Arosbaya patut diduga menyalahi aturan Undang-Undang nomor 11 tahun 2010. Pasalnya, ada perusakan yang terjadi dalam proyek pemugaran. Pekerjaan yang dilakukan tahun 2019 tersebut menggunakan APBD sekitar Rp148 juta. Namun, dalam perkembangannya, ada beberapa bangunan situs yang dirusak akibat proses pemugaran yang tidak direncanakan dengan baik.

Berdasarkan Undang-Undang nomor 11 tahun 2010, Situs Cagar Budaya adalah lokasi yang berada di darat atau di air yang mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya atau Struktur Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu. Sama halnya dengan keberadaan Makam Agung di Kecamatan Arosbaya, situs makam raja Madura Barat tersebut juga masuk dalam kategori situs cagar budaya yang harus dilindungi.

Tentang perusakan situs cagar budaya sesuai pasal 66 UU nomor 11 tahun 2010 berbunyi “Setiap orang dilarang merusak Cagar Budaya, baik seluruh maupun bagian-bagiannya, dari kesatuan, kelompok, dan/atau dari letak asal”.

Adapun sanksinya bagi perusak Cagar Budaya adalah pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 15 tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 500 juta dan paling banyak Rp5 miliar.

Baca Juga : Terkendala Anggaran, 15 Dusun Yang Belum Teraliri Listrik Tak Bisa Diselesaikan di Tahun 2020

Oleh karena itu, penting bagi Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk melakukan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan Cagar Budaya sebagai bagian dari tugas yang diembannya. Adapun istilah, perlindungan adalah upaya mencegah dan menanggulangi dari kerusakan, kehancuran, atau kemusnahan dengan cara penyelamatan, pengamanan zonasi, pemeliharaan, dan pemugaran Cagar Budaya. Perlu diketahui bahwa pengamanan adalah upaya menjaga dan mencegah Cagar Budaya dari ancaman dan/atau gangguan.

Saat ini, Makam Agung Arosbaya telah terdaftar dan proses verifikasi dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan termasuk kategori situs cagar budaya sejak 27 September 2017, dalam pengelolaan Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur.

Pada halaman pertama sebelah timur terdapat 15 buah makam dengan tokoh utama adalah Pangeran Pragalbo atau dikenal juga dengan Pangeran Onggu. Dari ke 5 makam di atas batur hanya satu makam yang mempunyai inskripsi berhuruf Arab yang berbunyi Allohu Akbar.

Baca Juga : Tito Tunggu Keputusan Gubernur Terkait Konflik Bupati-DPRD Jember

Saat dikonfirmasi, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Bangkalan, Hendra Gemma Dominan tak menampik adanya kesalahan dalam proses pemugaran. Dia menjelaskan terkait pemugaran di Makam Agung Bangkalan, tepatnya pada kompleks makam Pangeran Pragalbo bahwa pihaknya sudah bermediasi dengan beberapa tokoh pemerhati budaya serta sudah menghadap pada Bupati Bangkalan.

“Kami sudah bermediasi dengan tokoh pemerhati budaya dan sejarah serta sudah dipanggil Pak Bupati. Ada juga Pak Sekda dan Pak Kadis serta sudah mendapat keputusan bersama dan akan berkoordinasi dengan pihak Trowulan karena makam agung Pangeran Pragalbo merupakan ranah wewenang dari Badan Pelestarian Cagar Budaya Provinsi (BPCB),” jelasnya.

Menurutnya koordinasi dengan BPCB Trowulan tersebut karena termasuk salah satu tempat dari lima cagar budaya yang mendapatkan SK dari Obyek Diduga Cagar Budaya (ODCB). Oleh karena itu, pihaknya mencoba mengkonservasi situs cagar budaya.

“Pada awal 2019 yang lalu kami sudah berkoordinasi dan sudah datang ke BPCB serta sudah diizinkan melakukan konservasi. Setelah mendapat izin kita menghadap kepada Pak kadis dan kami mencoba mengerjakannya. Kami juga ada juru pelihara yang bertanggung jawab utusan dari Trowulan untuk memantau langsung di lokasi,” imbuh Hendra.

Baca Juga : BLT Dinikmati Keluarga Terdekat, Warga Lajing Geruduk Kantor Desa

Setelah bangunan selesai, lanjutnya, datang tim peneliti pada akhir bulan Maret untuk melakukan penelitian di Makam Raden Pragalbo dan ditemukan ada bangunan yang tidak sempurna. Salah satu tiang bangunan menutupi batu Cagar Budaya tersebut.

“Setelah penelitiannya selesai mereka mengirim surat pada kami tentang kekurangan itu dan meminta untuk dipindahkan kembali. Pada intinya dipindahkan dan memperbaiki batu yang sudah tertutup itu,” katanya.

Setelah melakukan mediasi dengan dengan tokoh budaya serta Bupati menyepakati untuk mendatangkan tim ahli dari BPCB untuk mensosialisasikan seperti apa yang seharusnya sehingga tidak merusak situs yang ada.

“Kita di sini akan bertanggung jawab penuh untuk mengembalikan kembali, bukan membongkar tapi mengembalikan kembali sesuai dengan bentuk aslinya tanpa merusak lagi,” tutup Hendra. (fat/rd)