Pastor Katolik di Banyuwangi Bangun Musala, Ternyata Ini Maksudnya

oleh -
https://live.staticflickr.com/65535/49268403828_0a64bfe533_b.jpg
Guna mengakomodasi umat muslim yang sedang berkunjung, pastor Romo Tiburtius Catur Wibawa menggagas pembangunan musala di lingkungan Griya Ekologi agar tetap dapat beribadah tanpa perlu pergi jauh ke masjid atau musala di kampung-kampung. (Foto: arahjatim.com/ful)

Banyuwangi, ArahJatim.com – Griya Ekologi milik Sekolah Menengah Atas Katolik (SMAK) Hikmah Mandala di Banyuwangi, tampaknya bisa menjadi salah satu gambaran kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Meski dikelola umat Katolik, namun pengelolanya tetap memberikan fasilitas bangunan musala di dalamnya.

Berada di Griya Ekologi di Dusun Krajan, Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro ini seperti berada di sebuah vila yang sangat asri. Berada di wilayah pegunungan membuat tempat ini juga sangat sejuk penuh dengan ketenangan. Berbagai macam tanaman bunga warna-warni tumbuh subur di atas lahan seluas dua hektare ini.

Tak ketinggalan, bunga tebubuya yang saat ini sedang tren di wilayah Surabaya juga tumbuh subur di tempat yang sudah dibangun sejak dua tahun yang lalu itu. Selain tanaman bunga, di tempat itu pengunjung juga disuguhi dengan pemandangan rumah-rumah kuno khas masyarakat adat Suku Using yang membuat pengunjung seakan berada di Kampung Using yang sesungguhnya.

Nah, hal menarik lainnya saat pengunjung berada di tempat itu adalah bangunan musala sederhana yang ada di sisi selatan kawasan Griya Ekologi. Meski tempat itu dikelola umat Katolik, namun pengelolanya tetap memberikan fasilitas bangunan musala di dalamnya.

Penggagasnya adalah seorang pastor bernama Romo Tiburtius Catur Wibawa. Pria berambut gondrong itu sengaja mendirikan musala di Griya Ekologi yang ia kelola, agar bisa digunakan warga Muslim untuk beribadah jika sedang berkunjung.

“Fasilitas musala ini berdiri sejak bulan Mei 2019 lalu. Kita bangun dengan kayu bekas yang kita daur ulang menjadi sebuah tempat ibadah yang nyaman,” kata Romo Catur.

Saat ini, musala sederhana tersebut menjadi tempat ibadah yang nyaman bagi umat Muslim yang berkunjung ke Griya Ekologi di Desa Kelir. Sebab sebelum didirikan musala, pengunjung yang beragama Islam bila hendak menunaikan ibadah salat harus pergi ke Masjid ataupun musala yang ada di kampung-kampung yang letaknya cukup jauh dari kawasan Griya Ekologi.

Seorang pengunjung muslim menunaikan salat di musala yang berada di lingkungan Griya Ekologi. (Foto: arahjatim.com/ful)

“Dulu sebelum ada musala, tamu-tamu kita yang muslim kadang ada juga salatnya sendiri-sendiri di kamar. Kadang ya di aula, tapi kan rasanya kurang nyaman. Akhirnya kita bangunkan musala agar umat muslim bisa juga beribadah di sana, bahkan bisa untuk berjamaah kok. Seperti halnya saya kalau beribadah pasti ingin di tempat yang nyaman, apa salahnya kan kalau kita menyediakan tempat ibadah yang nyaman bagi yang lainnya,” tambah Romo Catur.

Mungkin hal kecil yang dilakukan oleh pastor di Banyuwangi itu bisa menjadi contoh bahwa sejatinya warga negara Indonesia adalah masyarakat yang sangat majemuk, dan menghargai segala perbedaan. Tak hanya musala, pihak pengelola juga mempersilahkan apabila ada pihak lain yang ingin membangun tempat ibadah agama lain di kawasan itu.

Diharapkan, Griya Ekologi yang dibangun sebagai tempat edukasi cinta pada alam tersebut juga bisa dijadikan sebagai miniatur kerukunan umat beragama di Indonesia yang beragam.

“Jika ada yang ingin membangun pura dan wihara di sini, kami persilakan. Tapi kalau sekarang tidak memungkinkan karena kita masih terkendala di biaya. Sementara musala dulu dan Rumah Maria yang dibangun,” pungkas Romo Catur. (ful)