Menkes Terawan, Sang Primadona Kala Indonesia Kelabakan Menghadapai Gempuran Virus Corona

oleh -

Arahjatim.com – Semenjak pandemi corona menjadi headline news di media massa seluruh dunia, Indonesia nampaknya juga memiliki primadona di media massa yang diwakili oleh Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, wajah dan kelakarnya acapkali muncul mengundang tawa geli masyarakat selagi Indonesia kelabakan menghadapai gempuran virus corona.

Namun, kini sosok itu hilang entah kemana, namanya hanya muncul di surat-surat sakti yang mengunci wilayah rentan pandemi, seperti halnya PSBB yang secara bergantian diterapkan oleh beberapa kota besar di Indonesia.

Virus yang berasal dari kota Wuhan tersebut begitu cepat menyebar ke seluruh dunia. Dalam menanggapi penyebaran itu, Menkes Terawan pernah berujar ketika memulangkan 243 WNI dari Cina, bahwasanya dari 243 orang tersebut, tak satupun yang mengidap virus mematikan itu.

“Lihat bukti nyata, 243 warga kita itu ada di pusat pertempuran ibaratnya, mereka sehat,” ujarnya.

Dalam kesempatan lain ia mengatakan “Negara lain boleh protes, biarin saja, ini hak negara kita, bahwa kita mengandalkan yang maha kuasa,” kelakarnya.

Dalam penanganan tanggap corona, Harvard School of Public Health pernah melakukan risetnya yang mengatakan Indonesia seharusnya sudah terpapar virus covid-19 pada kurun waktu yang sama. Penelitian dari Profesor Marc Lipsitch tersebut menyebutkan Indonesia seharusnya sudah memiliki 5 kasus infeksi virus corona jika melihat kondisi Indonesia yang memiliki hubungan erat dengan China.

“Indonesia melaporkan nol kasus, tapi mungkin sebenarnya sudah ada beberapa kasus yang tak terdeteksi,” ujar Lipsitch

Ia memprediksi Indonesia menjadi salah satu negara yang belum memiliki sistem deteksi kuat untuk mengetahui keberadaan penyakit dengan nama resmi.

Berbagai tanggapan muncul atas penelitian Lipsitch, sebagian menyebutnya sebagai sesuatu yang masuk akal, sementara berbagai pihak lainnya merasa itu sebagai sebuah penghinaan atau pesimistis terhadap Indonesia. Salah satunya disampaikan oleh sang primadona media Indonesia Menteri Kesehatan Indonesia, Terawan Agus Putranto.

“Itu namanya menghina, wong peralatan kita kemarin di-fixed-kan dengan Duta Besar Amerika Serikat (AS). Kita menggunakan kit (alat)-nya dari AS,” kata Terawan.

Untuk meredam kesalahpahaman yang terjadi dalam sepekan terakhir, dalam akun YouTube seorang mahasiswi Harvard TH Chan asal Indonesia, Nadhira Afifa, Prof. Lipsitch menjelaskan apa yang sebenarnya menjadi tujuan utamanya dalam penelitian itu.

“Tujuan dari penelitian kami adalah untuk melihat apakah kasus yang sudah terdeteksi benar-benar merepresentasikan jumlah kasus yang ada sebenarnya,” kata Lipsitch.

Lipsitch pun tidak bermaksud memfokuskan penelitiannya hanya pada satu negara saja, namun data yang ada menunjukkan salah satu negara yang dimungkinkan memiliki kasus belum terdeteksi adalah Indonesia.

“Kami tidak sengaja memfokuskan pada satu negara tertentu saat memulai penelitian ini, kami memperhatikan semua negara. Dan tujuan kami bukan untuk menilai kualitas dari sebuah negara,” jelasnya dalam wawancara bersama Nadhira.

Menanggapi tanggapan Menkes Terawan yang menyebut hasil penelitiannya sebagai sebuah penghinaan, Lipsitch mencoba untuk meluruskannya.

“Adanya deteksi kasus yang terlewat bukanlah sebuah penghinaan, karena setiap negara mungkin saja mengalaminya. Ini hanyalah sebuah peringatan sebuah kondisi yang patut kita waspadai dan tanggapi,” sebut dia.

Lipsitch mengatakan, penelitian itu mungkin saja memiliki kesalahan atau tidak akurat sepenuhnya. Tetapi, ia menyebut, setidaknya ada hal yang penting untuk menjadi perhatian.

“Sekali lagi kami bermaksud membantu memberi sinyal mengenai hal penting yang harus diperhatikan,”ungkapnya

Kini, Menkes lebih irit tampil di media massa sejak perannya digantikan oleh Achmad Yurianto yang bertindak sebagai Juru Bicara Penanganan Corona, dirinya mengaku lebih berperan pada strategi penanganan virus corona tersebut. Namun, hingga kini, perannya tak begitu nampak untuk publik, melonjaknya pasien positif corona masih menjadi momok bagi pemerintah Indonesia untuk membendung massifnya penyebaran.