Epidemiolog UI Sayangkan Pemerintah Terlalu Menutupi Data Perihal Penyebaran Covid-19 Di Indonesia

oleh -

Surabaya, Arahjatim.com – Kekhawatiran mengenai penyebaran covid 19 di Indonesia telah memasuki babak baru. penambahan pasien positif corona terjadi setiap harinya. Dalam hitungan waktu 24 jam saja, penambahan pasien positif corona mencapai angka ratusan yang disinyalir terjadinya penambahan yang begitu signifikan. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi para ahli, termasuk para epidemiolog yang mulai khawatir akan hal ini.

Dr. Pandu Riono Ph.D menuturkan, keterbatasan data yang dapat diakses oleh para ahli menjadi masalah utama saat ini dalam penyusuanan strategi untuk mencegah penyebaran virus corona tersebut. Menurutnya, pemerintah tidak cukup taransparan dalam upaya memberikan data kepada para epidemiolog, hal ini adanya kehendak pemerintah dalam upaya menghindari kepanikan masayarkat.

“Sangat sulit, karena data surveillance nya tidak mudah diakses, karena kami diminta oleh Bappenas untuk mencoba memperkirakan. Kami bisa minta bantuan kepada teman-teman di Bappenass untuk dicarikan akses data, data apapun akan kami manfaatkan. Jadi kalau kita hanya mengestimasi berdasarkan laporan yang dilaporkan oleh juru bicara pemerintah, itu terlambat, itu data sudah lima hari yang lalu, sudah di swab, sudah ada gejala, baru diumumkan hari ini misalnya, sebagian yang diumumkan hari ini sudah meninggal orangnya, mungkin yang sudah banyak meninggal juga belum sempat di test. Itulah problem under reported dan under estimate kalau kita hanya mengandalkan data yang dilaporkan oleh juru bicara BNPB atau Kemenkes,” jelas Dr. Pandu dilansir dari Narasi Newsroom.

Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwasanya data merupakan hal yang begitu berharga bagi para dokter dan ilmuan dalam melawan pandemic covid 19. Dengan data para epidemiolog bisa menyusun cara agar penyebaran wabah ini bisa berhenti. Tapi jika data itu tak didapatkan, sangat sulit rasanya bagi mereka bisa menang dalam pertempuran melawan corona.

Epidemiolog Universitas Indonesia itu juga menambahkan bahwasanya angka kematian yang diakibatkan oleh serangan virus corona tersebut dapat menimbulkan masalah baru yang berakibat pada kepanikan hebat dalam masyarakat, hal ini disebabkan lambannya pemerintah untuk menangani laju penyebaran covid-19.

“Mentok-mentok angka kematian akibat virus corona itu ya 10 %, tak mungkin 4 atau 5 persen. Tapi kan kalau 10 % dari 2,5 juta penduduk berapa ? 250.000 pasien worts cases secenario yang kami prediksi, lebih dari 220.000 kematian mungkin yang akan terjadi di Indonesia. Itu banyak dalam waktu singkat loh,” tuturnya dalam sesi wawancara melalui video call.

Ia juga menyinggung munculnya covid di Indonesia yang pernah dilaporkan oleh Universitas Indonesia mengenai temuannya tentang awal masuknya covid-19.

“kita harus jeli dalam mencari data kapan covid ini masuk di Indonesia, pada saat itu gejala-gejala covid sudah ada di Indonesia, tapi pemerintah menunggu hasil dari lab, nah lab kita saat itu belum siap untuk mendeteksi covid 19. Tapi orang dengan gejala-gejala covid sudah terjadi di DKI misalnya, mulai awal Februari sudah terdeteksi, sudah terjadi peningkatan, virus itu sudah menyebar sejak lama di Indonesia,” akunya.

“Kita itu seperti itu, saat awal-awal dengan semangat tolak corona kita terlalu mengabaikannya, padahal sudah ada yang terkena dengan suspect corona, meskipun hasilnya negative karena lab kita belum mampu pada saat itu. Ini yang bahaya jika laboratorium dimonopoli oleh satu institusi, bisa manipulasi data. Jadi banyak data-data yang mengatakan negative tapi buktinya positif,” Imbuhnya.

Sementara itu, dilain pihak, Menteri Kesehatan Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp. Rad. Pernah memberikan argumentasinya terkait pandemi virus corona, Menkes agaknya ingin masyarakat tidak panik dalam menghadapi penyebaran virus corona tersebut. Hal itu digambarkan dalam penyampaiannya ke khalayak ramai dengan santai dan penuh humor.

“Kamu lihatlah, Menkesnya confident banget kok, yakin apa yang harus dihadapi, yang dihadapi ini corona, bukan barang yang menakutkan luar biasa, yang menakutkan itu beritanya,” tuturnya.

“jangan resah, jangan panik, enjoy saja, makan yang cukup. Virusnya ringan-ringan saja. Yang sakit yang pakai masker, yang sehat ga usah. Batuk pilek itu angka kematiannya lebih tinggi daripada covid. Corona ini tidak seganas flu burung dan sebagainya, ini dengan mortality yang lebih rendah,” tambahnya.

 

(fik)