​Mengapa KH Basori Alwi Menilai Ploso atau Lirboyo Paling Ideal Jadi Tuan Rumah Muktamar NU

oleh -
oleh

Kediri, ArahJatim.com – Hiruk-pikuk bursa calon tuan rumah Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) berikutnya mulai menghangat. Dari lima provinsi yang masuk dalam radar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jawa Timur menjadi salah satu kandidat kuat yang paling diunggulkan.

​Suara dukungan pun terus mengalir dari akar rumput, termasuk dari para pengasuh pondok pesantren di daerah. Salah satunya datang dari KH Basori Alwi, Pengasuh Pondok Pesantren Roudhotul Ibaad, Dusun Kaliawen Timur, Desa Sanginu, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Jum’at (3/7/2026).

​Secara terbuka, KH Basori Alwi menyatakan dukungannya jika hajatan akbar warga Nahdliyin tersebut digelar di Jawa Timur, khususnya di Kediri dengan membidik Pondok Pesantren Lirboyo sebagai lokasi utama.

pasang iklan_rev3

​Kedekatan Historis dan Romantisme Alumni NU se-Indonesia

​Dalam sebuah bincang santai yang hangat, KH Basori Alwi mengungkapkan bahwa Lirboyo bukan sekadar pesantren besar. Ada ikatan batin dan sejarah yang teramat kuat antara Lirboyo dengan garis perjuangan Nahdlatul Ulama.

​”Alhamdulillah, kalau kita sudah diberikan wacana itu oleh PBNU, maka kami dari Pondok Pesantren Roudhotul Ibaad sangat mendukung diletakkan di Jawa Timur. Harapan kita, didukung lagi untuk ditempatkan di Lirboyo,” ujar KH Basori Alwi dengan nada optimis.

​Saat ditanya mengenai alasan mendasar di balik dukungannya, ia menjelaskan adanya faktor historis dan kultural yang kuat.

​”Karena Pondok Lirboyo ini pondok besar yang sangat mencintai NU. Benar-benar memperjuangkan NU. Selain itu, mayoritas pengurus PCNU hingga pengurus ranting NU di seluruh Indonesia ini banyak yang merupakan alumni Lirboyo. Jadi, ini bisa menjadi momentum silaturahmi akbar bagi mereka untuk kembali ke pondok,” tambahnya.

​Ia juga menambahkan bahwa bagi pesantren-pesantren kecil seperti yang diasuhnya, keputusan para masayikh Lirboyo maupun Ploso selalu menjadi rujukan utama. “Kami sangat sam’an wa tho’atan (mendengar dan patuh),” tuturnya.

​Menjawab Mitos ‘Kediri Angker’ bagi Pejabat Negara

​Sudah menjadi rahasia umum adanya mitos atau kepercayaan lama yang menyebut bahwa Kediri “kurang ramah” atau dihindari oleh presiden maupun pejabat tinggi negara karena kekhawatiran akan lengser dari jabatan. Menanggapi potensi kendala ini, terutama untuk acara pembukaan yang biasanya dihadiri Presiden dan jajaran menteri, KH Basori Alwi memberikan solusi yang sangat taktis dan bijak.

​Menurutnya, tradisi atau kekhawatiran tersebut tidak harus menjadi penghalang jalannya Muktamar NU di Kediri.

​”Kalau menurut saya, solusinya adalah pembukaan Muktamar bisa diletakkan di kabupaten sekitar Kediri. Boleh di Jombang, Blitar, atau kabupaten terdekat lainnya. Itu tidak apa-apa,” usulnya sembari tersenyum.

​Dengan strategi tersebut, prosesi seremonial pembukaan yang melibatkan pejabat negara tetap berjalan lancar di luar wilayah Kediri, sementara seluruh rangkaian persidangan dan inti kegiatan Muktamar tetap bisa dilaksanakan di Lirboyo.

​Fasilitas dan Aksesibilitas Lirboyo yang Sangat Mumpuni

​Selain faktor historis dan kultural, kesiapan infrastruktur juga menjadi poin krusial mengapa Kediri layak menjadi tuan rumah. KH Basori Alwi menilai Lirboyo dan wilayah Kediri secara umum sudah sangat siap dari segi fasilitas publik.

​”Fasilitasnya sangat mumpuni untuk Lirboyo. Ini pondok besar. Mulai dari akses bandara (Bandara Dhoho Kediri), jalan besar, hingga fasilitas umum lainnya sangat menjangkau dan memudahkan para peserta dari berbagai daerah,” pungkasnya.

​Kombinasi antara kematangan infrastruktur modern di Kediri dan karisma kultural Pondok Pesantren Lirboyo dinilai menjadi modal yang lebih dari cukup untuk menyukseskan gelaran Muktamar NU mendatang.

No More Posts Available.

No more pages to load.