Jember, Arahjatim.com– Mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) kembali membuktikan taringnya di kancah internasional sebagai agent of change. Melalui tim yang dipimpin oleh Mohammad Arsy Darmawansyah, mereka tidak hanya menciptakan alat pelindung ekosistem bernama “TurtleSafe”, tetapi juga memberikan kritik saintifik terhadap kebijakan anggaran bencana di Indonesia.
Langkah progresif ini menjadi angin segar di tengah meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi, seperti banjir lumpur yang baru-baru ini melanda wilayah Sumatera.
TurtleSafe: Inovasi Fleksibel Penyelamat Biodiversitas Laut
Inovasi utama yang diusung adalah TurtleSafe, sebuah alat perlindungan telur penyu yang dirancang adaptif untuk berbagai karakteristik pantai di Indonesia. Alat ini hadir sebagai solusi atas tingginya risiko kegagalan penetasan telur penyu akibat faktor alam maupun predator.
”TurtleSafe adalah komitmen kami untuk menjaga biodiversitas laut. Kami merancangnya agar mudah diterapkan di berbagai medan pesisir nusantara,” ujar Arsy saat ditemui di Kampus Tegalboto, Jumat (30/01).
Sorotan Tajam di Forum Global APRU Filipina
Tak hanya fokus pada teknologi fisik, tim yang beranggotakan Muhammad Ridwan Ghani Abhirama, Naura Salma Taqiyya, Adinda Riski Oktasari, dan Sayyidha Rahma Audyna ini juga membawa hasil riset kritis ke forum internasional.
Pada November 2025, mereka mempresentasikan karya ilmiah berjudul “The Impact of Budget Efficiency on Disaster Management and Legal Protection in Indonesia” dalam forum Asia-Pacific Research Universities (APRU) ke-20 di Filipina.
Riset ini menganalisis bagaimana kebijakan efisiensi anggaran pemerintah berdampak langsung pada kecepatan dan kualitas penanganan bencana di lapangan.
”Kami melihat adanya korelasi kuat antara kebijakan fiskal dan keselamatan nyawa manusia. Efisiensi yang berlebihan berisiko memperlama penderitaan korban bencana, seperti yang terlihat pada banjir lumpur setinggi rumah di Sumatera,” tegas Arsy.
Indonesia: Risiko Bencana Tertinggi Kedua di Dunia
Pemilihan topik ini didasarkan pada data bahwa Indonesia menempati peringkat kedua negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia setelah Filipina. Tim UNEJ menyoroti tiga poin krusial:
- Kerentanan Geografis: Posisi Indonesia di jalur cincin api (Ring of Fire).
- Dilema Konstitusional: Perlindungan warga negara yang terkendala birokrasi anggaran.
- Ketergantungan Fiskal: Anggaran BNPB yang sangat bergantung pada fluktuasi APBN.
Untuk memberikan solusi konkret, mereka memperkenalkan metode analisis berbasis data seperti Cost-Benefit Analysis (CBA), Net Present Value (NPV), dan Value of Statistical Life (VSL). Metode ini digunakan untuk menghitung secara presisi dampak pemotongan anggaran terhadap tingkat kerentanan suatu wilayah.
Mitigasi Lokal: Isu Gumuk Pasir Jember
Selain isu nasional dan global, tim ini tetap membumi dengan memperhatikan lingkungan sekitar. Mereka tengah melakukan kajian mendalam mengenai dampak pengerukan gumuk pasir di Jember yang kian mengkhawatirkan.
Eksploitasi gumuk pasir dinilai dapat merusak benteng alami wilayah Jember terhadap ancaman bencana tertentu, sehingga diperlukan riset mitigasi yang berkelanjutan.
“Kami percaya bahwa riset yang relevan dan aktual adalah kunci untuk menggugah perhatian pengambil kebijakan. Anggaran yang memadai bukan sekadar angka, tapi soal keselamatan jiwa,” tutup Arsy.










