Banyuwangi, ArahJatim.com – Berita penemuan sesosok mayat wanita yang hangus terbakar di kebun kelapa hebohkan warga Desa Pondok Nongko, Kecamatan Kabat, Banyuwangi. Dan orang pertama yang menemukan mayat tersebut adalah Saikoni (60), warga setempat. Saikoni sehari-hari bekerja sebagai penjaga kebun, tempat di mana ia menemukan mayat wanita tersebut sudah gosong menghitam.
Saikoni menemukan mayat wanita itu Sabtu (25/1/2020) sekitar pukul 07.00 pagi. Setelah menemukan mayat itu, dirinya memang tidak langsung mengabarkan kepada orang lain. Ia masih takut dan syok akan temuannya yang dikira hanyalah kayu bakar. Saat ditemui di rumahnya, Saikoni menceritakan, penemuan mayat perempuan tersebut berawal dari ketidaksengajaan.
Saikoni yang datang ke lokasi kejadian awalnya mengira bekas pembakaran di kebun yang dilihatnya itu hanyalah bekas pembakaran yang lumrah dilakukan oleh warga sekitar untuk membakar sisa-sisa pertanian. Namun saat dirinya melihat ke arah bawah, Saikoni mulai sedikit curiga akan banyaknya tumpukan bambu yang sehari sebelumnya masih utuh, sudah menjadi arang.
Dia juga curiga melihat benda gosong yang bentuknya mirip kayu bekas terbakar yang ternyata adalah kaki manusia.
“Waktu saya sampai di kebun, apinya sudah tidak ada, cuma agak sedikit hangat saja. Awalnya saya kira itu hanya kayu yang terbakar, soalnya bentuknya beda sendiri dengan arang bambu yang ada di sekitarnya. Setelah saya periksa ternyata itu bukan kayu tapi kaki manusia. Saya langsung takut dan kaget. Saya sampai merangkak untuk meninggalkan kebun karena saking takutnya ternyata yang saya temukan itu manusia yang terbakar. Saya langsung pulang ke rumah dan tidak langsung lapor karena takut. Selang beberapa jam, langsung saya lapor ke tetangga dan akhirnya terus ramai itu. Polisi juga langsung datang ke kebun. Saya juga juga dipanggil pak polisi di Polsek dimintai keterangan,” ungkap Saikoni menggunakan Bahasa Using.

Saikoni menambahkan, kebun tempatnya melakukan aktivitas sehari-hari tersebut selain ditanami pohon kelapa juga dijadikan lahan pertanian melon. Pada malam hari, kebun tersebut memang sangat sepi lantaran lokasinya jauh dari permukiman warga. Namun tidak jarang, saat malam hari banyak muda-mudi baik laki-laki maupun perempuan datang ke kebunnya untuk nongkrong.
“Iya meski sepi tapi saya sering nemui anak-anak muda itu di sana kalau malam, gak hanya laki-laki tapi ya ada perempuannya juga, bahkan saya juga pernah nemu waria juga. Kebanyakan orang luar kampung sini yang datang ke kebun itu. Kadang ya minum-minuman di sana, sampai menggelar tikar begitu. Saya memang tidak pernah menegur karena itu bukan urusan saya, tapi kebanyakan mereka sudah tahu kalau saya yang menjaga kebun itu. Biasanya saya kalau malam hari memang ke kebun untuk cek pengairan kebun, Tapi waktu Jumat malam saya tidak ke kebun karena memang kebun sedang tidak dalam kondisi ditanami melon,” pungkas Saikoni. (ful)










