Krisis Air Bersih di Campurejo Kota Kediri: Warga Mandi di Kantor hingga Angkut Galon Pakai Motor

oleh -
oleh
Saifuddin saat mengecek kondisi tempat wudhu di Mushola Tulus Al-Ikhlas, Kelurahan Campurejo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Sudah dua hari terakhir mushola ini mengalami krisis air bersih imbas matinya aliran PDAM secara total.

Kediri, ArahJatim.com – Sudah dua hari terakhir, rona gelisah menggelayuti wajah warga RT 12 RW 03, Kelurahan Campurejo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Air yang biasanya mengalir melimpah dari jaringan PDAM, tiba-tiba mati total. Bagi kawasan yang padat dan menjadi pusat beberapa fasilitas publik ini, hilangnya air bersih seketika melumpuhkan aktivitas harian warga.

​Ironisnya, bantuan air bersih yang mulai berdatangan belum mampu menyentuh seluruh lapisan. Masalahnya klasik: kendala geografis perkampungan kota.

​Terisolasi di Gang Sempit: Mandi di Tempat Kerja hingga “Numpang” Saudara

​Bagi warga yang tinggal di area depan jalan utama, bantuan dropping air mungkin sudah meredakan dahaga. Namun cerita berbeda datang dari mereka yang tinggal di dalam gang-gang kecil. Mobil tangki besar tidak bisa masuk.

pasang iklan_rev3

​Roy Kurniawan (pak Roy), salah satu warga terdampak, menuturkan bagaimana peliknya bertahan hidup tanpa air selama hampir tiga hari. Untuk menyiasati kebutuhan biologis paling dasar seperti mandi, Roy terpaksa memanfaatkan fasilitas di tempat kerjanya.

​”Kalau saya pribadi, mandi di tempat kerja. Tapi kalau untuk keluarga di rumah, ya terpaksa minta ke tetangga atau saudara yang beda RT. Itu pun terbatas, kita ambil secukupnya karena tetangga kan juga butuh,” ujar Roy dengan nada pasrah.

​Hal senada dirasakan Pak Purwanto. Demi mencukupi kebutuhan air di rumahnya yang terletak di RT 12 RW 03, ia harus rela bolak-balik mengendarai sepeda motornya menuju rumah sang ayah di RT 11. Berbekal galon-galon kosong, Purwanto mengangkut air demi menyambung napas dapur dan kamar mandinya.

​Respons Cepat RT dan Sinergi Tim 112 / Damkar Kota Kediri

​Melihat warganya mulai kesulitan, Agus Gunawan selaku Ketua RT 12 tidak tinggal diam. Menyadari ada sekitar 158 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak, ditambah adanya fasilitas publik seperti Puskesmas, sekolahan, hingga kantor Kelurahan, Agus langsung mengambil langkah taktis.

​”Langkah pertama yang saya ambil adalah menghubungi layanan darurat 112. Kemudian saya berkoordinasi dengan pihak Pemadam Kebakaran (Damkar). Alhamdulillah, pagi ini satu unit armada Damkar berkapasitas besar dikerahkan untuk melakukan dropping air darurat,” jelas Agus Gunawan, Rabu (10/6/2026)

​Meski bantuan air bersih dalam perjalanan, Agus mengakui bahwa pasokan ini hanyalah solusi jangka pendek. Apalagi wilayah Campurejo tergolong kawasan sibuk yang dikelilingi banyak perkantoran.

​Warga Berharap Solusi Permanen: “Kami Butuh Sistem Pengeboran”

​Krisis air yang memutus urat nadi aktivitas warga dan pelayanan publik ini memicu kedewasaan berpikir dari perangkat lingkungan. Warga berharap pemerintah kota tidak hanya tanggap saat memberikan bantuan darurat, tetapi juga memikirkan solusi jangka panjang agar kejadian serupa tidak terulang.

​”Harapan saya ke depan, paling tidak ada usaha untuk membuat sistem pengeboran atau solusi infrastruktur air lainnya di sini. Wilayah Campurejo ini banyak kantor dan fasilitas umum, jadi keberadaan air bersih yang stabil itu sangat vital,” tegas Agus menyampaikan aspirasi warganya.

​Kini, sembari menunggu gemercik air kembali mengalir normal dari pipa-pipa PDAM, warga Campurejo harus saling bahu-bahu, berbagi liter demi liter air, membuktikan bahwa di tengah keringnya keran, kepedulian antartetangga justru mengalir semakin deras. (das)

No More Posts Available.

No more pages to load.