Kediri, ArahJatim.com — Ada yang unik dan sarat makna dalam prosesi pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Mojo, Kediri, Jawa Timur, Sabtu malam (20/6/2026). Pembukaan forum tertinggi kedua di NU tersebut ditandai dengan tabuhan “Kenteng” oleh Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar.
Kiai Miftachul Akhyar menabuh Kenteng tersebut sebanyak 9 kali, sebuah angka simbolis yang merepresentasikan jumlah bintang sembilan pada logo Nahdlatul Ulama. Di balik riuhnya bursa calon Ketua Umum PBNU yang ikut mencuat, alat pemukul berbahan besi tebal ini mendadak mencuri perhatian ribuan muktamirin karena nilai historis perjuangannya yang luar biasa.
Saat ditemui dalam suasana santai di teras Gubuk Ploso pada Minggu (21/6/2026), salah satu keluarga besar Pondok Pesantren Ploso, KH Abdussalam Shohib atau yang akrab disapa Gus Salam membeberkan kisah spiritual di balik benda ikonik tersebut.
Karamah Pesantren: Bom Belanda yang Gagal Meledak
Sembari menikmati suasana tenang di teras Gubuk Ploso, Gus Salam menceritakan bahwa Kenteng yang digunakan dalam pembukaan Munas-Konbes NU tersebut sejatinya adalah sebuah bom asli yang dijatuhkan oleh militer Belanda pada masa penjajahan. Sekitar tahun 1949 hingga 1950-an, sebuah bom mendarat tepat di area belakang Ploso.
Alih-alih membawa kehancuran dan korban jiwa, sebuah keajaiban atau karamah justru terjadi di lingkungan pesantren. Bom berdaya ledak tinggi tersebut sama sekali tidak meledak.
”Usai bangsa Indonesia memproklamirkan diri merdeka pada tahun 1945, ditemukan bom di belakang Pondok Pesantren Ploso. Alhamdulillah, ya mungkin karena karamahnya para masyayikh dan masyarakat, bom itu tidak meledak,” kenang Gus Salam hangat.
Setelah situasi perang mereda, benda berbahan besi sangat tebal yang semula mengancam nyawa tersebut diamankan. Alih-alih dibuang, oleh pengasuh pondok pesantren, bom tersebut dimodifikasi dan dimanfaatkan untuk keperluan santri.
Penanda Shalat, Mengaji, hingga Memori Manis Masa Santri
Sejak saat itu, fungsi instrumen perang pembuat maut tersebut berbalik 180 derajat. Kenteng bertransformasi menjadi bagian penting dari ritme harian pesantren mulai dari penanda masuk waktu shalat berjamaah, jadwal mengaji, hingga agenda-agenda kepesantrenan lainnya menemani tabuhan bedug dan kentongan kayu.
”Saat ini kenteng menjadi ikon Pondok Pesantren Ploso dengan ditabuh, sebagai tanda waktu shalat dan ngaji,” tambah Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang tersebut.
Menariknya, suara dentangan Kenteng ini memicu memori nostalgia yang sangat kuat bagi para alumni Ploso, termasuk Gus Salam sendiri. Ia menceritakan bagaimana para santri zaman dulu sering kali berebut hanya untuk mendapatkan kesempatan memukul Kenteng.
”Kami itu kadang-kadang dulu waktu belajar saling berebut untuk ngenteng (memukul kenteng). Karena kelasnya banyak, kita saling mendahului. Bahkan saya pernah membawa pemukulnya (pentungan) ke kamar sendiri, biar tidak keduluan santri lain,” seloroh Gus Salam sambil tersenyum mengingat masa-masa indahnya di pesantren.
Filosofi Mengubah Bahaya Menjadi Keberkahan
Bagi keluarga besar dan alumni Ploso, kehadiran Kenteng dalam pembukaan Munas-Konbes NU 2026 membawa pesan spiritualitas yang sangat mendalam. Benda kokoh yang tak hancur dimakan usia selama puluhan tahun ini menjadi simbol kreativitas tanpa batas yang diajarkan oleh para pendahulu pesantren.
Gus Salam memetik sebuah filosofi berharga dari keberadaan Kenteng ini. Menurutnya, segala sesuatu di dunia ini pada hakikatnya bersifat netral. Nilai akhir dari sesuatu tersebut sangat bergantung pada bagaimana manusia memanfaatkan dan menyikapinya.
”Kenteng yang seharusnya jadi bom berbahaya bagi kita, setelah dimodifikasi dengan kreativitas, malah mendatangkan manfaat luar biasa. Intinya, kita harus bisa menggunakan apa pun yang diciptakan orang lain untuk kemanfaatan yang baik, karena semua hal punya potensi untuk kebaikan,” pungkas Gus Salam bijak sebelum menutup obrolan di teras Gubuk Ploso siang itu.
Kisah Kenteng ini menjadi bukti nyata bagaimana dunia pesantren mampu mengubah instrumen perang dan kebencian masa lalu, menjadi gaung panggilan ibadah dan persaudaraan yang menyejukkan hati. (das)










