Gus Yahya di Munas-Konbes NU 2026: Masuk NU Harus dengan Cinta, Singkirkan Kontroversi

oleh -
oleh

Kediri, ArahJatim.com – Suasana khidmat berselimut spiritualitas kental menyelimuti Aula Utama Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Di hadapan ribuan pasang mata pengurus dan kader dari seluruh pelosok negeri, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menyampaikan pesan menyentuh hati pada pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026, Sabtu malam (20/6/2026).

​Dengan nada bicara yang tenang namun berwibawa, Gus Yahya mengingatkan kembali esensi paling mendasar dari berorganisasi di NU, yaitu sebuah pengabdian tulus yang lahir dari hati.

​”Mari kita teguhkan kembali ketulusan khidmah yang menjadi dasar dari keberadaan kita di dalam jam’iyah ini. Kita ada di sini untuk berkhidmah,” ujar Gus Yahya di sambutan hangatnya.

pasang iklan_rev3

​Membumikan Pesan Cinta Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari

​Dalam forum permusyawaratan tertinggi NU di bawah muktamar ini, Gus Yahya mengajak seluruh peserta untuk menanggalkan ego sektoral dan menghindari perbedaan yang tidak produktif. Di tengah tensi organisasi menjelang Muktamar NU ke-35, ia meminta agar semua proses permusyawaratan dilalui dengan suasana damai dan jujur.

​Untuk mengetuk hati para kader, Gus Yahya secara khusus mengutip untaian nasihat legendaris dari sang pendiri NU, Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari:

“Udkhuluha bil mahabbi wal widad, wal ulfati wal ittihad, wal ittishali bil arwahi wal ajsad.”

​(Masuklah ke dalam NU dengan rasa cinta dan kasih sayang, dengan kerukunan dan persatuan, serta dengan ikatan lahir dan batin).

​Menurut Gus Yahya, pesan tersebut bukan sekadar jargon. Itu adalah kompas moral agar warga NU tidak hanya terikat secara fisik dalam forum-forum resmi, tetapi juga menyatu secara batiniah demi kemaslahatan umat.

​Gema “Ya Jabbar, Ya Qahhar!” dan Pagar Spiritual NU

​Ada momen yang membuat bulu kuduk merinding sekaligus membakar semangat spiritual para hadirin. Dengan suara lantang, Gus Yahya menegaskan keyakinannya bahwa Nahdlatul Ulama berada di bawah perlindungan ilahi. Ia meyakini, pihak-pihak yang mencoba merusak atau mengganggu kemuliaan organisasi ini tidak akan pernah mencapai tujuannya.

​”Apapun yang dilakukan orang untuk mengganggu, untuk mencederai, untuk merusak apa yang mulia di dalam jam’iyah ini, pasti tidak akan mencapai apa yang diinginkan,” tegasnya.

​Sejurus kemudian, Gus Yahya menggemakan wirid tolak bala warisan guru para ulama Nusantara, Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.

“Ya Jabbar, Ya Qahhar! Ya Jabbar, Ya Qahhar! Ya Jabbar, Ya Qahhar!” seru Gus Yahya yang langsung disambut gemuruh spiritualitas di dalam aula.

​Ploso, Rumah Sejarah yang Menghidupkan Ruh Organisasi

​Pemilihan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso sebagai tuan rumah Munas dan Konbes 2026 kali ini dirasa sangat pas. Mewakili keluarga besar pesantren, Agus Hasbi Munif mengungkapkan rasa syukur dan kehormatan yang mendalam atas kepercayaan PBNU.

​Secara historis, hubungan Ponpes Ploso dan NU sangatlah erat. Pendiri Ploso, KH Jazuli Utsman, merupakan murid langsung dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Energi spiritual dari pesantren inilah yang diharapkan mampu membawa keberkahan pada keputusan-keputusan strategis yang dilahirkan.

​Acara pembukaan ini turut dihadiri oleh deretan tokoh bangsa dan kiai-kiai sepuh NU, di antaranya Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Prof. Dr. KH Ma’ruf Amin, Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, hingga tokoh nasional seperti Khofifah Indar Parawansa.

​Sesuai dengan tema tahun ini, “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa,” munas kali ini diharapkan menelurkan gagasan inklusif yang membawa kegembiraan dan manfaat nyata bagi masa depan umat, bangsa, dan kemanusiaan. (das)

No More Posts Available.

No more pages to load.