Kediri, ArahJatim.com – Suasana di Aula Utama Pondok Pesantren Ploso tampak khidmat saat Wakil Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Afifuddin Muhajir, memberikan arahan kepada para peserta Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU, Minggu (21/6/2026).
Di tengah agenda strategis organisasi, KH Afifuddin Muhajir mengambil momen tersebut untuk mengingatkan kembali fondasi dasar yang menjadi “harga mati” bagi Nahdlatul Ulama. Ia menekankan pentingnya menjaga identitas NU di tengah dinamika zaman yang terus berubah.
Menegaskan Kembali Khittah 1984
Dalam arahannya, KH Afifuddin menggarisbawahi posisi NU sebagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan. Ia mengajak seluruh warga NU untuk terus memegang teguh komitmen sejarah yang telah dirumuskan pada tahun 1984.
”Ada hal-hal yang bersifat harga mati dan ada yang bisa beradaptasi. Di antara yang harga mati adalah bahwa NU ini organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, bukan organisasi politik,” tegas KH Afifuddin.
Ia merefleksikan kembali sejarah perjalanan NU, termasuk saat keterlibatan NU dalam panggung politik praktis di tahun 1955. Namun, pasca-keputusan penting pada tahun 1984, NU telah bertekad untuk kembali ke khittah—kembali ke jati diri sebagai organisasi yang fokus pada pemberdayaan umat dan dakwah, bukan berkompetisi di jalur politik praktis.
Pancasila sebagai Titik Temu (Kalimatun Sawa)
Selain soal khittah, KH Afifuddin juga menyinggung posisi ideologis NU terhadap negara. Bagi NU, lanjutnya, dasar negara Pancasila adalah final dan harus dipegang teguh oleh setiap organisasi yang bergerak di Indonesia.
”Pancasila adalah dasar negeri. Maka semua organisasi harus berdasarkan Pancasila. Bagi NU, Pancasila adalah titik temu (kalimatun sawa) antara warga dan negara,” ujarnya.
Ia menambahkan, interpretasi NU terhadap Pancasila, khususnya sila pertama, sangatlah jelas dan tidak terbantahkan. Bagi warga Nahdliyin, sila ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ identik dengan nilai-nilai tauhid dalam akidah Islam. Inilah yang membuat NU merasa nyaman dan kukuh dalam bingkai NKRI.
Panduan Praktis Peserta Munas & Konbes
Di samping pesan-pesan filosofis, KH Afifuddin juga memberikan arahan teknis bagi peserta yang akan mengikuti rangkaian sidang. Mengingat padatnya jadwal agenda Munas dan Konbes di Pondok Pesantren Ploso, ia mengimbau para peserta untuk memperhatikan rute transportasi internal.
Bagi peserta yang hendak mengikuti Bahtsul Masail dan Sidang Komisi, pihak panitia telah menyiapkan layanan transportasi khusus di pintu luar area aula.
”Untuk menuju lokasi sidang komisi dan Bahtsul Masail, nanti di pintu luar ada mobil yang disiapkan. Silakan langsung menuju lokasi setelah mengikuti rangkaian acara sebelumnya,” tutupnya, seraya mengingatkan para peserta untuk tetap menjaga ketertiban selama acara berlangsung.
Dengan penegasan ini, Munas dan Konbes NU tahun 2026 ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang musyawarah organisasi, tetapi juga ruang untuk memperkokoh komitmen kebangsaan dan keislaman yang moderat. (das)










