- Gurit Using Keblak-keblak
Pada buku antologi puisi Mahawan, terdapat lima gurit using yang berjudul sama, Keblak-Keblak. Kepakan sayap dan kukuruyuk Mahawan, mengajak pembaca lebih mendekatkan diri untuk selalu ingat kepada Sang Pencipta. Kelima puisi itu selalu diawali dengan larik “Keblak, keblak, keblake pitik kukuruyuk”.
Kelima gurit ini sangat kaya idiom dan amanat, sangat enak dibaca. Tetapi sayang belum begitu kuat, antara kaitan dan runtutan kronologis misi antara satu dengan yang lain. Saya membayangkan kelimanya merupakan representasi dari perjalanan waktu-waktu (salat). Imajinasi saya timbul ketika membaca Keblak-keblak (1) pada “trantang-trantang wayahe wis arep mangkat esuk”. Sedangkan pada diksi “wayahe wang padha nabuh bedug” pada Keblak-keblak (2), saya keliru menganggapnya sebagai penerusan citraan waktu zuhur.
Namun Mahawan memilih tak bergerak, sengaja mengikatkan diri dengan waktu subuh saja. Melihat ilustrasi sampul buku ayam jago, seharusnya terdapat perilaku berbeda dengan ayam babon. Keblakan ayam jago bisa dilakukan pada waktu kapan pun, bahkan keblakannya mengisyaratkan tujuan perilaku yang berbeda-beda. Mahawan sengaja mengikatnya hanya pada persamaan, judul, larik dan persamaan setting waktu (subuh), walaupun kelima gurit itu terletak dalam buku yang sama. Mahawan sengaja membedakan, antara keblakan yang satu dengan yang lainnya. Saling berdiri sendiri. Dan itu menjadi pilihan penulis.
Melalui buku antologi Keblak-Keblak, Mahawan bertutur secara halus bagaimana cara menuju kebaikan. Dunia sastra Using khususnya Gurit Using, menjadi senjata pamungkas kegalauannya pada kondisi yang merisaukannya. Mahawan mengingatkan kita, melalui keahliannya untuk terus berusaha menjadi lebih baik. Secara keseluruhan, buku ini sangat bagus untuk dibaca dan dikoleksi, mengingat puisi-puisi yang tersaji di dalamnya mengingatkan kita kepada hubungan antara sesama manusia dan hubungan kepada Sang Pencipta berupa doa dan harapan serta rasa syukur kepada-Nya. Gurit ini bak siraman es ditengah keringnya ladang sastra Banyuwangi.
Elvin Hendratha
Owner Artevac Channel










