“Ya memang terjadi embun es, namun aktivitas pendakian masih normal bahkan kuota pendakian yang kita batasi 600 orang perhari sudah penuh sampai akhir bulan,” ungkap Bidin Lintang Anggraeni, Kepala Seksi III TNBTS saat ditanya ArahJatim.com.
Lebih lanjut ia menjelaskan, bahwa fenomena alam froze di kawasan gunung api tertinggi di Pulau Jawa ini merupakan fenomena tahunan, bahkan sebelumnya suhu di Desa Ranupani mencapai nol drajat celsius.

Untuk mengantisipasi dampak dari cuaca buruk ini, petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru bekerjasama dengan Rumah Sakit Bayangkara Lumajang menyiagakan tim dokter untuk mengecek kondisi kesehatan para pendaki, sesudah diberikan arahan oleh petugas.
“Kita siapkan klinik di pos perizinan mas, jadi selain surat kesehatan sebelum berangkat para pendaki akan dicek kondisi kesehatannya,” tambahnya.
Petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mengimbau kepada warga terutama para pendaki agar menyiapkan peralatan keselamatan guna mengantisipasi terjangkitnya penyakit hipotermia yang diakibatkan oleh suhu dingin. (rochmad)










