Selain itu, dalam buku ini terdapat dua puisi yang merupakan persembahan Mahawan kepada “Sengker Kuwung” dan “Artevac”. Bentuk apresiasi penulis terhadap debut langkah kedua gerakan seni budaya di Banyuwangi, dalam kemasan memberi semangat dan harapannya.
Penyajian buku ini dalam bentuk padat, tetapi tidak njlimet. Amanat religius diselipkan dalam diksi dan idiom yang luar biasa. Sajiannya dikemas dari sebuah tahapan berproses yang cukup panjang, sejak tahun 1974 melalui fakta kehidupan yang ringan di depan mata, penulis terus berusaha menangkap kegalauannya. Walau sebenarnya penulisan buku, dilakukan dengan singkat dan cepat. Mahawan menulis Antologi ini, tidak lebih dari satu bulan guna menyajikan karya terbaiknya untuk dapat dinikmati. Buku antologi ini, seperti ekspresi kerinduan Mahawan terhadap tanah kelahirannya, Banyuwangi.
Pada buku ini, Mahawan mengambil pilihan sikap dan penyajian gaya berbeda dalam pengemasan puisinya. Hal itu sangat berbeda dengan Puisi Mahawan “Dhedhali Putih (kanggo mbok Sri Tanjung)”, Puisi pemenang pertama Lomba Penulisan Puisi Using saat HUT VIII Radio Khusus Pemerintah Daerah (RKPD) “Suara Blambangan” pada tahun 1976. Kemenangan Mahawan menyisihkan nama besar seniman Slamet Utomo, adalah sebuah keputusan sulit para juri. Perdebatan berakhir dengan kesimpulan bahwa, pada puisi Mahawan terdapat terobosan pembaharuan puisi using dalam sastra Banyuwangi saat itu.

Puisi Mahawan “Dhedhali Putih (kanggo mbok Sri Tanjung)” tersebut, menarik perhatian para Profesor (Setya Yuwana, Henricus Supriyanto, Suharmono Kasiyun, dan Sugeng Wiyadi) dari Universitas Negeri Surabaya atau UNESA, untuk diteliti dan menghasilkan buku hasil penelitian dengan judul “Pendekatan Stilistik dalam Puisi Jawa Modern dialek Using”. Puisi “Dhedhali Putih (kanggo mbok Sri Tanjung)” dikemas dalam pilihan diksi panjang yang membuat kerutan dahi. Ini berbeda dengan antologi “Keblak-keblak”. Mahawan melakukan pilihan: padat, berisi, bermain idiom, religius, serta berusaha menangkap tema dari fenomena keseharian di sekitar dengan selipan amanat yang sederhana tapi menggoda. Melalui kesederhanaannya, pembaca “Keblak-keblak” serasa diajak bermain di sungai menaiki pelepah pisang, didorong menuju kedung kontemplasi agamis dengan tak terasa.










