Surabaya, ArahJatim.com – Warga penghuni Apartemen Puncak CBD Surabaya melakukan protes terhadap sikap pengembang apartemen yang dianggap tidak transparan dan seolah bertindak sewenang-wenang.
Aksi protes dilakukan warga yang kecewa dengan sikap pengembang yang menaikkan Iuran Pengelolaan Lingkungan (IPL) yang naik secara tiba-tiba.
“Pemutusan air dan listrik secara sepihak karena IPL tidak dibayarkan, padahal kita sudah membayar listrik dan air sesuai tagihan,” ujar salah satu pemilik unit Apartemen Puncak CBD, Handojo saat mendatangi pihak pengembang, Jumat (28/1).
Handojo mengaku sengaja untuk menunda pembayaran IPL karena fasilitas yang dijanjikan pihak pengembang belum dipenuhi. Pun dengan kenaikan IPL yang sebelumnya tidak ada konfirmasi kepada para penghuni apartemen.
“Kita juga tidak pernah menerima laporan terkait uang yang kami bayarkan,” katanya.
Lanjut Handojo, dari awal sebenarnya pihak pengelola menjanjikan fasilitas berupa kolam renang, tempat gym, pasar modern, dan fasilitas umum lain. “Yang terealisasi hanya kolam renang saja,” akunya.
Untuk IPL sendiri, sebelumnya Handojo dan warga lain mengaku jika pembayarannya 6 bulan sekali sebesar Rp 1,5 juta.
“Dan untuk saat ini jadi 1 bulan sekali cara bayarnya dan dinaikkan jadi sekitar 50 ribu,” bebernya.
Ia dan warga mengatakan bukan tak mau untuk membayar, melainkan menginginkan adanya transparansi kenaikan iuran itu digunakan untuk apa. “Terus hak kita itu mana, fasilitas umum yang dijanjikan itu mana,” tanyanya.
Sementara itu, PT Prima Kelola Utama selaku pihak pengembang dan pengelola Apartemen Puncak CBD saat ditemui hanya mengatakan masih akam menyambungkan laporan warga ke atasan.
“Masih kita tanyakan pak, mau kesini atau tidak,” ujar Alfin yang mengaku sebagai pengawas lapangan.










