Inovasi “Teropong Jiwa” Banyuwangi Raih Top 25 Kovablik Provinsi Jatim 2019

by -
https://live.staticflickr.com/65535/49168076732_cc83e0ecec_b.jpg
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat menerima penghargaan Top 25 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik se-Jawa Timur untuk program Terpong Jiwa, yang diserahkan langsung Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, Selasa (3/12/2019). (Foto: arahjatim.com/hmsbwi/ful)

Banyuwangi, ArahJatim.com – Program “Terapi Okupasi dan Pemberdayaan Orang Dengan Gangguan Jiwa/ (Teropong Jiwa)” Pemkab Banyuwangi menyabet penghargaan Top 25 kategori kesehatan di ajang Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Kovablik) se-Jawa Timur Tahun 2019.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Selasa (3/12/2019), dalam acara penyerahan Penghargaan Top 25 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik se-Jawa Timur dan Implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Perangkat Daerah Provinsi Jawa Timur di Surabaya.

“Terima kasih kepada Pemprov Jatim yang telah mengapresiasi kinerja Banyuwangi lewat penghargaan ini. Ini akan menjadi pelecut semangat kami untuk terus berinovasi menciptakan pelayanan publik terbaik,” kata Anas.

Dijelaskan Anas, Teropong Jiwa adalah program pemberian terapi kerja bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Pasien ODGJ yang sudah stabil setelah menjalani serangkaian pengobatan, akan dilatih berbagai keterampilan kerajianan tangan sebulan sekali.

“Terapi kerja ini bertujuan agar pasien ODGJ tidak mengalami kekambuhan. Mereka bisa lebih fokus dan tidak mudah emosional,” terang Anas.

Ditambahkan Plt Kepala Puskesmas Gitik Rogojampi, drg. Ai Nurul Hidayah, program ini digagas dan dilaksanakan di Kantor Puskesmas Gitik, Rogojampi, sejak 2017 lalu. Saat ini, ada 27 ODGJ yang dilatih di tempat ini. Mereka diajari membuat aneka kerajinan tangan, seperti miniatur kapal layar, lampu, gantungan kunci, tas belanja, dan aneka anyaman.

“Alhamdulillah, hasilnya memuaskan. Pasien ODGJ yang diterapi di sini menunjukkan progress yang menggembirakan. Rata-rata, emosi mereka semakin stabil dan kooperatif. Bahkan, dulu ada istri yang minta cerai karena suaminya ODGJ, sekarang rukun kembali,” jelas Nurul.

Selain dilatih, lanjut Nurul, pemkab juga membuat program keluarga asuh buat mereka. Yakni mencari keluarga yang mau menerima ODGJ yang sudah pulih untuk bisa menjadi bagian dari keluarga tersebut. Program ini khusus bagi ODGJ yang tidak mempunyai keluarga.

“Kami juga ada program Usaha Asuh, dimana pengusaha di sekitar wilayah puskesmas diajak bekerjasama untuk menampung ODGJ yang sudah pulih untuk bisa bekerja di tempat mereka. Misalnya saja di tempat usaha penggilingan beras dan yang lainnya,” pungkasnya. (adv.hmsbwi/ful)