
Dalam kolaborasi ini, pada tahap awal, ratusan siswa dan santri dari 10 SMK dan pesantren dilatih hulu ke hilir kopi dan cokelat.
“Ini juga menerjemahkan arahan Presiden Jokowi bahwa anak-anak muda sejak dini harus didesain sebagai generasi kreatif, termasuk soal kewirausahaan. Ketika bertemu para bupati, Pak Jokowi mencontohkan besarnya potensi kopi sebagai penggerak ekonomi rakyat,” kata Anas.
Kepala BPPT Hammam Riza menjelaskan, kolaborasi dengan Banyuwangi melibatkan banyak bidang teknologi.
“Kami fokus membantu dari hulu ke hilir untuk teknologi pangan,” kata Hammam.
Untuk hulu, BPPT membantu budidaya kopi dan kakao lewat teknologi smart farming. Bila produktivitas sudah meningkat, selanjutnya tahapan pengolahan kopi dan kakao untuk menghasilkan kopi dan cokelat dengan keunggulan rasa.

“Proses hulu ke hilir itu untuk mencetak technopreneur agribisnis. Kami salut dengan Banyuwangi yang melibatkan pelajar dan santri untuk dilatih, ikut bimbingan teknis pengolahan dan pengembangan kopi dan cokelat,” kata Hammam.
“Dengan melibatkan santri dan SMK, bisa menumbuhkan young technopreneur yang berbasis pertanian. BPPT siap total membantu Banyuwangi,” pungkasnya. (*)






