Cuaca Buruk, Pelabuhan Ketapang Berlakukan Sistem Buka-Tutup

oleh -
https://live.staticflickr.com/65535/49472955707_3b501fc126_b.jpg
Sebuah kapal feri melintas di perairan Selat Bali. (Foto: arahjatim.com/ful)

Banyuwangi, ArahJatim.com – Arus lalu lintas kapal di perairan Selat Bali sempat dihentikan sementara oleh pihak Otoritas Pelabuhan Penyeberangan Ketapang, Banyuwangi, Sabtu (1/2/2020) sore. Penghentian sementara dilakukan lantaran kondisi jalur pelayaran di Selat Bali sangat membahayakan untuk dilintasi kapal-kapal yang berlayar.

Hujan lebat yang menghuyur wilayah perairan Selat Bali selama seharian membuat jarak pandang kapal menjadi sangat terbatas. Agar tidak terjadi tabrakan kapal, pihak otoritas pelabuhan memberlakukan sistem buka tutup pelabuhan.

“Iya tadi ada penutupan sebentar saja mulai pukul 14.40 sampai pukul 14.50, ini dilakukan karena jarak pandang di laut terbatas, itu sangat membahayakan kapal. Penyebabnya karena hujan yang sangat lebat mulai siang,” kata Manajer Usaha ASDP Ketapang, Heru Wahyono.

Meski gelombang dan angin yang terjadi di Selat Bali tidak begitu bergerak secara signifikan, namun intensitas hujan yang terjadi sejak siang hari cukup tinggi membuat jarak pandang menjadi sangat tipis. Akibat penutupan, pengguna jasa pelayaran sempat tertahan di halaman parkir pelabuhan.

Baca juga:

Meskipun demikian, hal tersebut tidak sampai membuat kemacetan panjang, lantaran kondisi penumpang memang sedang sepi. Data pihak BMKG Banyuwangi menyebutkan, di wilayah perairan Selat Bali patut diwaspadai akan adanya fenomena hujan dengan intensitas yang cukup tinggi. Mengingat pada bulan Februari hingga Maret ini adalah puncaknya musim penghujan.

“Kami mengimbau kepada pihak jasa pelayaran untuk mewaspadai adanya pertumbuhan awan cumulonimbus yang ditandai dengan adanya awan berwarna hitam pekat. Sebab awan tersebutlah yang bisa memicu timbulnya hujan yang cukup lebat yang disertai petir sehingga mengakibatkan jarak pandang menjadi terbatas. Diprediksi, hujan lebat akan terus terjadi hingga bulan Maret,” ujar Dita Purnamasari, prakirawan BMKG Banyuwangi di kantornya.

Sementara itu, setelah dipastikan aman untuk pelayaran, pihak otoritas pelabuhan kembali membuka jalur pelayaran kapal yang melayani penumpang. Meski begitu, pihak pelabuhan tetap mewaspadai cuaca ekstrem yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi dengan menyiagakan skenario sistem buka-tutup pelabuhan. BMKG juga mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada.

“Pada puncak musim penghujan ini potensi bencana seperti banjir, tanah longsor dan hujan lebat berpotensi akan terus terjadi sampai Maret,” pungkas Dita. (ful)