Atasi Stunting, Wakil Ketua Komisi D DPRD Surabaya Minta Pemkot Serius

oleh -
oleh

Surabaya, ArahJatim.com – Menjelang penghujung tahun 2021, membahas stunting tentu menjadi perbincangan menarik, hingga penghujung tahun ini ada sekitar 1785 balita yang mengalami stunting di Kota Pahlawan.

Kasus tertinggi berada di Kecamatan Semampir, Kecamatan Kenjeran, dan Kecamatan Asemrowo. Kendati demikian, Pemerintah Kota Surabaya bertekad menghilangkan kasus dalam 3 bulan ke depan.

Ajeng Wira Wati, Wakil Ketua Komisi D DPRD Surabaya meminta pemkot tak sekadar optimis, namun harus dibarengi dengan kerja keras dan tepat sasaran. Karena dampak stunting dalam jangka panjang dapat mempengaruhi perkembangan otak balita.

pasang iklan_rev3

“Tidak hanya optimis, tetapi juga harus serius mengatasi stunting. Yang paling mendasar, permasalahan stunting ini harus bisa diselesaikan dari hulu, yaitu langkah pencegahan atau preventif. Di antaranya pentingnya edukasi mengenai kehamilan, kesiapan ekonomi dan sanitasi yang baik, yang kesemuanya itu harus diwujudkan dengan pemenuhan asupan gizi dan PHBS (pola hidup bersih dan sehat) yang baik,” tegasnya, Rabu (22/12/2021).

Menurut politisi Gerindra ini, stunting tidak hanya menjadi pekerjaan rumah (PR) pemkot selama 3 bulan ke depan, namun juga menjadi tantangan pemkot untuk meminimalisir masalah stunting di masa yang akan datang.

“Stunting di 1000 hari pertama kehidupan semoga bisa segera ditemukan dan diatasi dengan cepat, sehingga bisa diberikan pendampingan apakah balita tersebut stunting atau stunted,” timpal Ajeng.

Selain itu, Ajeng juga berharap serangkaian program pemkot seperti Jago Ceting (jagongan cegah stunting) dapat berjalan teratur dan maksimal.

“Saya harapkan program pemkot bisa berjalan maksimal, termasuk melakukan sosialisasi pemetaan dan perencanaan kehamilan di usia yang tidak terlalu muda, jarak kehamilan yang baik, dan usia si ibu yang tidak dalam usia risiko saat hamil,” tuntasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.