UNEJ Sambut Usia ke-61 dengan Enam Guru Besar Baru: Total Profesor Aktif Jadi 97!

oleh -
oleh
Dari kiri ke kanan (baris depan) Prof. Edy Supriyanto, Prof. Herlina, Prof. Zainuri, Rektor UNEJ, Ketua Senat UNEJ, Prof. Elok Sri Utami, Prof. Kacung Hariyono dan Prof. A. Taufiq

​Jember, ArahJatim.com – Menjelang perayaan Dies Natalis ke-61, Universitas Jember (UNEJ) kembali menegaskan komitmennya dalam penguatan akademik dengan mengukuhkan enam guru besar baru pada Senin, 21 Oktober 2025. Penambahan profesor ini menjadikan total guru besar aktif di UNEJ kini berjumlah 97 orang, mendekati target “tiga digit” profesor sebelum tahun 2028.

​Enam profesor yang dikukuhkan berasal dari beragam disiplin ilmu:

  1. Prof. Dr. Akhmad Taufik, S.S., M.Pd. (Sastra dan Pembelajarannya, FKIP)
  2. Prof. Ir. Kacung Hariyono, M.S., Ph.D. (Pelestarian Genetik Tanaman, Fakultas Pertanian)
  3. Prof. Dr. Elok Sri Utami, M.Si. (Keuangan Korporasi, FEB)
  4. Prof. Dr. Zainuri, M.Si. (Ilmu Ekonomi Kelembagaan, FEB)
  5. Prof. Dr. Ir. Herlina, M.P., IPM. (Teknologi Pengolahan Pangan Hasil Perkebunan, FTP)
  6. Prof. Dr. Edy Supriyanto, S.Si., M.Si. (Ilmu Fisika Sel Surya, FMIPA)

​Rektor UNEJ, Iwan Taruna, menyambut gembira pencapaian ini. Dalam sambutannya, ia menekankan peran strategis para guru besar sebagai penjaga akademik, mercu suar ilmu pengetahuan, dan penjaga marwah perguruan tinggi di tengah perubahan dunia yang cepat. Rektor berharap para profesor baru ini akan memperkuat peran dan fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi, menjadikan UNEJ sebagai “motor utama” yang berdampak.

pasang iklan_rev3

Orasi Ilmiah Inspiratif dari Sastra hingga Energi Terbarukan

​Sesi orasi ilmiah diwarnai presentasi yang mengupas isu-isu kontemporer:

  • Prof. Akhmad Taufik (asal Lamongan) membuka sesi dengan orasi berjudul “Sastra, Narasi Identitas, Dan Imajinasi Politik Kebangsaan…”. Ia berpendapat bahwa karya sastra tidaklah netral, seringkali memuat konstruksi kepentingan tertentu—mulai dari kepentingan kolonial (dalam Siti Nurbaya) hingga kritik politik (Hari ke Hari). Ia mengajak untuk mengembangkan ruang ideologi terbuka melalui sastra multikultural demi membangun kesadaran kebangsaan yang inklusif.
  • Prof. Kacung Hariyono (asal Banyuwangi) menyoroti “Pentingnya Pelestarian Plasma Nutfah Tanaman Untuk Kehidupan Manusia”. Ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki harta tak ternilai berupa biodiversitas tinggi yang harus dijaga melalui konservasi ex situ dan in situ, demi menjamin ketahanan pangan dan adaptasi terhadap perubahan lingkungan.
  • ​Dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Prof. Elok Sri Utami memperkenalkan konsep “Transformasi Keuangan Berkelanjutan” sebagai jalan menuju bisnis tangguh dan bertanggung jawab. Ia menekankan pentingnya adopsi prinsip Environmental, Social, dan Governance (ESG) agar perusahaan dapat bertahan di era disrupsi.
  • ​Rekan sejawatnya dari FEB, Prof. Zainuri (asal Jember), mengkritisi teori ekonomi klasik yang dinilai menyederhanakan perilaku manusia. Ia menawarkan kerangka ekonomi kelembagaan berbasis nilai Islam untuk mencapai pembangunan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan membawa keberkahan.
  • Prof. Herlina (asal Rambipuji Jember) dari FTP, membawakan orasi mengenai Potensi Bawang Hitam (Black Garlic) Dari Bawang Putih Lokal Sebagai Pangan Fungsional. Risetnya menunjukkan bawang putih lokal, khususnya varietas Lanang, memiliki potensi tinggi sebagai black garlic dan produk olahan bernilai ekonomis (seperti kerupuk dan saus), yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani lokal.
  • ​Terakhir, Prof. Edy Supriyanto dari FMIPA menawarkan solusi energi terbarukan melalui orasi Dye-Sensitized Solar Cell (DSSC) dari Bumi Tropis…. Teknologi DSSC ini dinilai berkelanjutan, murah, dan mudah diakses, serta memiliki potensi besar untuk edukasi dan kemandirian energi bagi masyarakat, seperti petani dan nelayan.

​Upacara pengukuhan ditutup dengan pesan dari Ketua Senat UNEJ, Andang Subaharianto, yang mengutip novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer: “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Tentu saja termasuk guru besar.”

No More Posts Available.

No more pages to load.