AZWI Sebut Solusi Penanganan Sampah Saat Ini Masih Palsu

oleh -
oleh

Surabaya, ArahJatim.com – “Saat ini sampah kita belum terpilah. Siapa yang bisa menjamin B3, vinyl, PVC, kaca dan aluminium foil ikut dibakar tidak menimbulkan racun?,” tanya Hermawan Some saat mengadakan diskusi di Surabaya pada Selasa (7/2) siang.

Founder Nol Sampah itu menyebutkan jika selama ini pengelolaan sampah belum dilakukan secara maksimal. Berbagai solusi sudah disuarakan oleh beberapa pihak, namun dari sekian solusi itu, Hermawan mengatakan masih banyak solusi palsu. Apalagi jika menyangkut sampah perkotaan.

“Masih banyak solusi palsu dalam menangani sampah perkotaan. Berbagai solusi palsu ini seperti teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dan TPST, pembuatan biji plastik daur ulang serta pembakaran plastik di industri pembuatan tahu,” bebernya.

pasang iklan_rev3

Hal ini ia katakan setelah dirinya mengunjungi beberapa tempat lokasi pengelolaan dan pencegahan sampah perkotaan, diantranya Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Banjarbendo, Pabrik Tahu Tropodo, Pembuatan Biji Daur Ulang Plastik Mojokerto dan TPA Jabon Sidoarjo. Keempat tempat tersebut, Hermawan mengatakan ternyata masih belum menerapkan solusi yang baik.

“Penerapannya hanya menggunakan tekhnologi termal. Selama ini penggunaan metode itu sudah banyak yang gagal karena biaya operasional yang tinggi,” ujarnya.

Dirinya mencontohkan salah satu tempat yang ia anggap sudah mulai mengurangi produksi RDF yang sebelumnya penggunaan RDF sangatlah tinggi.

“Seperti yang terjadi di TPST Banjarbendo yang saat ini sudah mulai mengurangi produksi RDF. Padahal sebelumnya, TPST Desa Banjarbendo, adalah salah satu tempat pembuatan pelet RDF,” katanya.

Dalam sehari, TPST Desa Banjarbendo, kata Hermawan bisa mengolah sampah sekitar 50 sampai 60 ton menjadi tiga hingga lima ton briket, bahan alternatif untuk industri kecil. Di TPA Ponogoro sempat ada produksi RDF (pelet) tetapi hanya berjalan beberapa bulan saja.

Diketahui sebelumnya, pada 2019 yang lalu, hasil riset ECOTON dan Nexus 3 Foundation menemukan bahwa sampah plastik meracuni rantai makanan Indonesia. Berdasarkan pengamatan, antara 25% hingga 50% limbah plastik yang diimpor oleh perusahaan daur ulang plastik dan kertas di Indonesia tidak dikelola dengan benar.

Analisis dari telur ayam bukan ras lepas kandang yang diambil dari dua situs di Indonesia dimana sampah plastik impor ditimbun dan digunakan sebagai bahan bakar atau dibakar untuk mengurangi volume timbunan sampah mengungkapkan adanya konsentrasi yang signifikan dari bahan-bahan kimia berbahaya termasuk dioksin.

“Konsentrasi kedua tertinggi dari dioksin dalam telur dari Asia yang pernah diukur ditemukan dalam sampel yang diambil dekat pabrik tahu di Tropodo yang membakar plastik sebagai bahan bakar proses produksi. Konsentrasi dioksin ditemukan 93 kali lebih tinggi dari batas aman yang ditetapkan Indonesia,” kata Eka Chlara Budiarti, selaku Citizen Science Coordinator dari ECOTON.

Plastik dan kemasan makanan mengandung kontaminan kimia dari proses manufaktur dengan banyak aditif untuk membuatnya tidak mudah terbakar, lebih fleksibel, steril dan sebagainya. Zat-zat aditif ini banyak bersifat toksik dan produk-produk dapat melepaskan saat digunakan dan dapat dilepas saat produk dibakar, didaur-ulang dan didapat dari produk daur ulang.

No More Posts Available.

No more pages to load.