Sumenep, ArahJatim.com – Sesuai laporan Bupati Sumenep terkait data penyebaran virus penyakit mulut dan kaki (PMK) di wilayah Provinsi Jawa Timur, khususnya 4 Kabupaten yang positif tertular diantaranya Gresik, Lamongan, Sidoarjo dan Mojokerto dan 6 Kabupaten yang masih proses praduga yaitu Jombang, Malang, Probolinggo, Lumajang, Pasuruan dan Kota Batu direspon cepat Dinas Ketahanan Pangan Peternakan dan Pertanian (DKPPP) Kabupaten Sumenep.
Berbagai langkah pencegahan dan pengendalian dilakukan oleh kepala dinas DKPPP Kabupaten Sumenep Arif Firmanto.
“Salah satu langkah yang dilakukan agar virus yang dikenal dengan foot and mouth disease ini tidak masuk ke Kabupaten ujung timur pulau Madura adalah melakukan pengawasan intensif terhadap lalu lintas ternak. Sehingga, bisa terpantau dengan baik. Namun sampai detik ini Kota Sumekar ini masih tergolong bebas,” ucapnya.
Meski begitu, Arif mengatakan tetap melakukan upaya untuk pencegahn virus baru itu agar tidak sampai masuk ke Kabupaten Sumenep.
“Sumenep masih bebas dari PMK ini. Tapi, segala bentuk usaha dan upaya pencegahan dan pengendalian kami lakukan agar tidak ada kasus terkonfirmasi dalam penyebaran virus untuk hewan ini,” katanya.
Arif menyebut pencegahan terhadap virus itu penting agar virus tidak sampai masuk. Pasalnya jika hal ini terjadi maka akan banyak imbas yang dirasakan oleh masyarakat.
“Langkah pencegahan dan pengendalian itu penting agar memotong mata rantai penyebaran di kota ini,” ungkapnya.
Ditambahkan, selain pengawasan, pihaknya juga menghentikan pengiriman dan pemasukan ternak ruminansia dari luar Madura dengan tidak mengeluarkan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).
“Kami juga melakukan sindromik surveillance (surveillance klinis) berbasis desa, agar bisa diketahui sebaran kasusnya,” tuturnya.
Bahkan, sambung dia, jika ditemukan adanya hewan sakit, dipastikan akan dilakukan karantina dan isolasi wilayah. Kemudian akan dilakukan pengobatan atas gejala sakit yang ditemukan.
“Misalnya, memberikan semprot kaki hewan yg sakit dengan formalin 4 persen pagi dan sore, pemberian obat antibiotik, analgesik dan vitamin. Termasuk disenfektan,” ucapnya.
Sementara, menurut Arif untuk petugas juga menerapkan Biosafety yang meliputi ganti sarung tangan, cuci dan semprot sepatu dengan desinfektan, cuci tangan dan ganti masker. Petugas juga punya kewajiban untuk mendata di berbagai desa, mulai dari hewan sakit, diobati, sembuh dan mati sebagai pengendalian.
Arif menegaskan, semua langkah pencegahan dilakukan agar Sumenep tetap steril dari PMK ini. “Makanya, semua pihak hendaknya bekerja maksimal untuk menjadikan kota Sumekar bebas PMK,” pungkasnya. (rif)










