Tulungagung, ArahJatim.com – Menopause kerap kali dianggap sebagai momok yang menakutkan bagi sebagian besar wanita. Bayang-bayang akan hilangnya kebugaran fisik, perubahan suasana hati yang drastis, hingga ancaman penyakit degeneratif seperti osteoporosis sering kali memicu kecemasan. Muncul stigma keliru di tengah masyarakat: “Saya kan masih 35 tahun, masih fit, urusan menopause itu nanti saja saat usia 50-an.”
Padahal, realitas biologis menunjukkan hal yang bertentangan. Fase perimenopause (transisi menuju menopause) justru sering dimulai secara tidak kasat mata sejak usia 35 tahun. Di sinilah “krisis struktural” tubuh wanita terjadi secara diam-diam. Jika tidak diantisipasi, seorang wanita berisiko kehilangan hingga 10% massa otot dan 8-10% massa tulang dalam kurun waktu satu dekade sebelum menopause benar-benar tiba.
Berangkat dari urgensi nyata tersebut, tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dari Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Kesehatan dan Keolahragaan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) hadir untuk melakukan gerakan preventif. Mereka menggelar pelatihan khusus bertajuk “Edukasi Physical Activity dan Pemahaman Kesehatan Reproduksi bagi Wanita Premenopause” pada Jumat hingga Sabtu, 17-18 Juli 2026.
Kegiatan yang berlangsung dinamis ini dipusatkan di SDN 7 Kampungdalem, Jl. Basuki Rahmad II No. 34, Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung. Sebanyak 40 guru olahraga SD yang tergabung dalam Kelompok MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Kabupaten Tulungagung hadir memadati ruang pelatihan dengan antusiasme tinggi.
Runtuhnya Perisai Estrogen dan Pentingnya Menabung Otot
Ketua Tim PKM FIKK UNESA, Prof. Dr. Noortje Anita Kumaat, M.Kes., menjelaskan secara gamblang bahwa selama masa produktif, tubuh wanita dilindungi secara sistemik oleh hormon estrogen. Hormon ini bertindak bagai perisai dari ujung rambut hingga ujung kaki.
”Ketika perisai estrogen ini runtuh saat memasuki fase menopause, wanita menghadapi risiko kesehatan yang jauh lebih tinggi daripada laki-laki. Mulai dari sarkopenia (kehilangan massa otot secara signifikan), lonjakan risiko diabetes, gangguan kardiovaskular, demensia, hingga osteoporosis tingkat lanjut,” papar Prof. Noortje di hadapan para peserta, Sabtu (18/7/2026)
Guru olahraga dipilih sebagai garda terdepan dalam edukasi ini karena mereka memiliki peran ganda yang strategis. Selain sebagai agen perubahan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat dan anak didik, banyak dari guru olahraga wanita yang juga sedang atau akan menghadapi fase transisi biologis ini.
Prof. Noortje menganalogikan tubuh manusia seperti kendaraan, namun bedanya tubuh tidak memiliki spare part atau suku cadang yang bisa ditukar tambah saat rusak. “Kita hanya diberi satu tubuh untuk seumur hidup. Pilihan aktivitas kita hari ini menentukan apakah mesin tubuh ini akan bertahan hingga garis akhir dengan kuat, atau hancur perlahan,” tegasnya.
Membongkar Mitos Latihan Beban bagi Wanita
Salah satu sorotan utama dalam pelatihan ini adalah pemaparan materi dari anggota tim PKM UNESA, Dr. Shidqi, yang mengupas tuntas mengenai intervensi fisik atau physical activity. Dr. Shidqi secara berani membongkar mitos keliru yang telanjur beredar di masyarakat: bahwa latihan beban berbahaya bagi wanita setengah baya karena tulang mereka rapuh dan rawan patah.
”Fakta medis justru menunjukkan sebaliknya. Latihan beban atau resistance training yang terukur adalah satu-satunya cara efektif untuk merangsang tulang agar melakukan osteogenesis—yaitu proses regenerasi sel tulang agar menjadi lebih padat dan kuat,” jelas Dr. Shidqi.
Ia memaparkan mekanisme osteogenesis yang bermula dari adanya external load (beban terukur dari luar). Beban ini memicu respons internal saraf tubuh, yang kemudian memerintahkan rekrutmen mineral-mineral baru menuju area tulang yang dilatih. Hasil akhirnya adalah peningkatan kepadatan tulang yang signifikan.
Melalui pendekatan “Fund Manager” untuk Tubuh Anda, tim UNESA mengajak para guru olahraga mengelola portofolio kesehatan mereka berdasarkan riwayat medis, gaya hidup saat ini, dan sisa waktu yang mereka miliki untuk mendapatkan maximum return berupa kemandirian fisik dan postur tubuh yang tetap tegak di masa tua.
Belajar dari Kasus Nyata: Fit Belum Tentu Sehat
Pelatihan ini terasa kian humanis dan menyentuh hati para peserta ketika tim PKM menyajikan sebuah studi kasus nyata tentang seorang wanita usia 42 tahun. Wanita tersebut dikenal sangat aktif secara fisik, bahkan mampu bertahan di ajang olahraga ekstrem seperti Triathlon dan Marathon Berlin. Namun di balik kebugaran luarnya, ia justru “hancur” secara hormonal, mengalami gejala perimenopause yang parah, kecemasan akut, hingga depresi akibat mengabaikan sinyal stres tubuh dan fluktuasi hormon (The Fit Illusion).
Dari kasus tersebut, peserta diajarkan prinsip The Holistic Health Reality. Menghadapi menopause bukan sekadar perkara olahraga kencang, melainkan tentang bagaimana mendengarkan tubuh, mengombinasikan nutrisi padat gizi, menjaga kualitas tidur, melakukan manajemen stres (mindset), serta menerapkan latihan fisik yang presisi dan tidak berlebihan.
Bagi peserta yang baru menyadari pentingnya hal ini di usia mendekati 50 tahun, Prof. Noortje menegaskan bahwa tidak ada kata terlambat. Langkah pertamanya adalah melakukan audit riwayat hidup secara personal, mulai menstimulasi tulang dengan latihan beban tanpa paksaan ekstrem, serta merestorasi fondasi holistik (pola tidur dan nutrisi).
Menuju No Pause Life: Menjadi Arsitek Umur Panjang
Melalui edukasi intensif selama dua hari ini, tim PKM FIKK UNESA berharap kelompok MGMP Guru Olahraga Tulungagung dapat menjadi “arsitek” bagi umur panjang mereka sendiri dan lingkungan sekitarnya. Konsep No Pause Life yang diperkenalkan menggabungkan empat pilar utama: Mindset (penerimaan), Movement (stimulasi fisik), Nutrition (nutrisi), dan Community (dukungan komunitas).
Ketika keempat pilar ini bersinergi, perjalanan menuju menopause yang semula dianggap sebagai fase penderitaan, akan bergeser menjadi fase pemberdayaan wanita yang penuh kenyamanan.
”Menopause journey tidak seharusnya dilalui sendirian dengan kepasrahan. Mulailah menabung kesehatan hari ini, karena tubuh Anda adalah satu-satunya rumah yang akan Anda tempati seumur hidup,” pungkasi Prof. Noortje disambut tepuk tangan riuh dari 40 guru olahraga yang siap membawa semangat baru ini ke sekolah-sekolah di Kabupaten Tulungagung. (das)












