Tulungagung, ArahJatim.com – Dalam menghadapi perkembangan dunia pendidikan yang semakin kompleks, sebuah terobosan edukatif, menjadi jawaban yang harus selalu dilakukan oleh lembaga- lembaga pendidikan manapun.
Dalam kontek ini, peran lembaga sekolah dibawah kendali Kepala Sekolah sebagai Head Manager, harus mampu melakukan inovasi yang selalu update.
Salah satu bidang yang harus menjadi perhatian ,adalah bagaimana peran siswa dalam satu lembaga , serta guru berinteraksi dengan tranfers ilmu, bisa berjalan bagus.
Salah satu program yang saat ini menjadi perhatian serius SMPN 1 Tulungagung , adalah Literasi. Program ini tidak hanya menjadi lahan coba coba, tetapi sudah menjadi mata ajar ekstra, dan berprestasi di tingkat nasional.
Terkait bidang Literasi dan prestasinya, Drs Sujito MM, selaku kepala sekolah SMPN 1 Tulungagung, membenarkan hal itu.
” Benar, sekolah kami ini sudah berprestasi di tingkat Nasional. Program ini ternyata mampu membuat para siswa, dan guru saling berkontribusi melakukan transfer ilmu. Bentuknya diwujudkan dengan cara membuat gagasan, menulisnya, dan menjadikan sebuah buku, sehingga ilmu itu akan bisa ditranfer lagi untuk orang lain “, ungkap Kepala Sekolah.
Seperti diketahui, selama tahun 2022 ini SMPN 1 mampu menjadi juara nasional, dalam sebuah lomba yang dilakukan pegiat literasi pusat. Ditambahkan, untuk menjadikan kebiasaan melakukan literasi seperti itu, ternyata perlu penanganan tersendiri, yang harus dimulai dari sebuah kesadaran, dan keinginan yang merdeka.
” Dalam hal harapan pemerintah dengan Merdeka Belajar, disinilah SMPN 1 Tulungagung sudah terlebih dulu mempersiapkan itu secara tersistem dan terukur ” tambah Drs Mujito, kasek SMPN 1 Tulungagung, yang sekolahnya tepat berada di jantung kota.
Disadari, kalau setiap program sudah bisa menjadi produk yang bagus, khususnya di lingkup SMPN 1 Tulungagung, justru menjadi tanggung jawap lembaga yang harus dijaga kontinyuitasnya. Hal -hal seperti ini yang justru harus terus ditingkatkan.
Satu lagi yang ternyata menjadi fokus, dan tidak dilupakan pihak sekolah, adalah bagaimana pihak lembaga harus mampu bersinergi dengan para orang tua , serta komite sekolah. Dengan pola ini, untuk melakukan pengabdian besar di dunia pendidikan sangat dibutuhkan. Perlunya harmonisasi secara humanis, bagi lembaga pendidikan manapun, diharapkan mampu melahirkan generasi bangsa yang siap menghadapi dinamika eranya.
“Salah satu kendala yang sekarang harus terus menerus dipupuk, adalah bagaimana lembaga, dalam hal ini sekolah, mampu membuat siswa menjadi terus tertarik dan cinta budaya baca, dan budaya menulis, minimal dari serapan bacaan yang dibaca, untuk ditulis, sekemampuan siswa. Itulah sebenarnya inti dari sebuah berliterasi. Untuk SMPN 1 Tulungagung ini, berliterasi itu bukan hanya dijalankan siswa, tetapi guru gurupun juga ikut dalam proses itu”, tambah Ibu Sakdiah, salah seorang guru sekaligus pembimbing literasi kitab suci, yang di lakukan sepekan sekali dalam pembelajaran satu Minggu. (dni)










