Sensasi Membaca Alquran Raksasa di Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi

oleh -

Banyuwangi, ArahJatim.com  Di tengah pandemi corona, tradisi tadarus atau membaca Alquran saat bulan Ramadan tetap berjalan seperti biasa. Seperti di Masjid Baiturahman Banyuwangi, dengan suasana yang sedikit berbeda seperti bulan Ramadan sebelumnya akibat pandemi Covid-19, para jemaah tadarus harus menjaga jarak atau physical distancing.

Selain itu, saat masuk masjid sebelum melaksanakan salat tarawih, seluruh  jemaah wajib melewati dan masuk ke bilik disinfektan terlebih dahulu. Dan memberlakukan physical distancing saat salat tarawih. Bahkan sebelum membaca Alquran, para jemaah juga diwajibkan mencuci tangan terlebih dahulu.

Ada yang unik di Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi ini, setiap malam para jemaah tadarus tidak menggunakan Alquran pada umumnya, melainkan dengan Alquran berukuran raksasa yang memiliki panjang dan lebar 2 x 1,5 meter dan berbobot empat kwintal lebih.

Baca juga:

Karena ukurannya yang super besar, untuk membuka lembaran Alquran ini dibutuhkan dua orang petugas. Setiap malam para jemaah berjumlah enam sampai tujuh orang ini mampu menyelesaikan bacaan Alquran raksasa ini sebanyak tiga juz.

Bagi warga yang belum terbiasa membaca Alquran ukuran jumbo ini harus bisa menyesuaikan diri. Namun, bagi yang sudah terbiasa, terasa lebih mudah karena ukuran huruf arabnya juga lebih besar dari biasanya.

“Secara umum memang sama saja, karena hurufnya juga sama seperti Alquran kecil, hanya saja ukurannya lebih besar. Itulah sensasinya, kita membacanya jadi lebih mantap meski awalnya harus menyesuaikan diri. Saya tadarus di sini sudah sejak dulu, sejak adanya Alquran raksasa ini ada sekitar tahun 2010,” kata Muhammad Faturrohman, Selasa (28/4/2020) malam.

Selain ukurannya yang besar, tanda akhir ayat pada setiap surat selalu berada di pojok halaman. Tanda ini diberikan untuk mempermudah jemaah yang membacanya. Dalam kesempatan kali ini, melalui sema’an Alquran para jemaah berharap agar pandemi virus corona segera berakhir dan seluruh umat manusia diberi keselamatan.

“Alquran ini hanya dibuka waktu Ramadan saja. Ada enam sampai tujuh orang yang membaca, dan ada dua orang yang bertugas membuka lembaran Alquran. Mudah-mudahan melalui sema’an ini kita semua diberi keselamatan dunia akhirat dan diberi kekuatan iman dan Islamnya,” kata Ahmad Rifa’i, Koordinator Sema’an Alquran raksasa.

Alquran raksasa ini dibuat dengan ditulis tangan oleh Abdul Karim warga Kecamatan Genteng, Banyuwangi pada tahun 2010 lalu. Untuk mengerjakan Alquran langka ini, penulis menghabiskan 32 dus spidol dan 40 dus tinta. Selain itu, kertasnya didatangkan khusus dari Jepang.

Istimewanya lagi, Alquran ini hanya dikeluarkan dan dibaca pada saat bulan suci Ramadan, dan sa’banan tiba serta hari besar Islam lainnya. Bahkan sebelum pandemi virus corona mewabah, Alquran yang diklaim terbesar se-Asia yang tersimpan rapi di museum ini juga dijadikan objek wisata religi bagi wisatawan dari seluruh Indonesia. (ful)