“Ya saya harus berhemat selama tiga bulan kemarin. Waktu direkrut kembali untuk bekerja, hati saya bungah sekali. Sudah tidak “puasa” lagi,” ujarnya.
Daya juang untuk kembali bangkit juga dirasakan Pinisri yang membuka usaha kuliner “Sri Mulyo” di Desa Sragi, Kecamatan Songgon. Pinisri menutup warung makannya karena sepinya pelanggan sejak Maret lalu. Namun, usaha kuliner olahan pangannya tetap dijalankan.
“Warung memang tutup, namun saya tetap produksi kue-kue kering. Ini cara saya agar karyawan tetap bekerja, walaupun saya tahu penjualan hampir dipastikan seret,” ujar Pinisri.
Salah satu cara menyiasati kondisi pandemi ini, Pinisri menjual produknya via online.
“Walau tidak sebanyak offline, tapi lumayan. Kalau dulu jualan sehari paling tidak ada Rp2 juta, selama pandemi ini jualan online hanya Rp500 ribu. Tapi lumayan lah, yang penting karyawan saya terus bekerja,” akunya.
Selain terus berproduksi, Pinisri mulai menyiapkan usahanya dengan protokol kesehatan Covid-19.
“Warung sudah mulai buka selama satu minggu terakhir, order kue dan kripik jalan terus. Untuk itu, kami harus menyesuaikan dengan aturan yang berlaku. Biar yang datang ke sini merasa aman kalau melihat standar kesehatan sudah kita jalankan,” jelasnya.
Alih-alih mengutuk, Pinisri justru mengaku bahwa pandemi ini adalah masa bagi dia untuk lebih banyak bersyukur pada Allah SWT. Dia merasa bahwa selama ini sudah banyak rezeki yang mengalir dari usahanya.

“Itu sebabnya saya tidak merumahkan karyawan, saya enggak takut rugi,” kata dia.
“Saya tidak mau menyerah. Kita harus bangkit,” ujarnya menyemangati.
Dalam kesempatan itu, Pinisri juga berpesan kepada pemerintah dan pelaku pariwisata agar wisata kembali dibuka. Tentu dengan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat.
“Pariwisata ini sangat menopang kehidupan UMKM, mohon agar wisata segera dibuka kembali. Kalau wisatanya bagus dan taat protokol kesehatan, UMKM-nya juga patuh, maka wisatawan maupun pelaku wisatanya juga sehat,” pungkas Pinisri. (adv.hmsbwi/ful)










