Banyuwangi, ArahJatim.com – Banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat Using Banyuwangi untuk mengungkapkan rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan. Seperti masyarakat di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, mereka menggelar ritual Tari Seblang, Minggu (25/8/2019) malam.
Selain di Kelurahan Bakungan, ritual tari Seblang juga digelar masyarakat di Desa Olehsari yang juga berada di wilayah Kecamatan Glagah. Yang membedakan adalah waktu pelaksanaan dan penarinya. Tari Seblang Olehsari dilakukan oleh penari wanita muda berumur 16-17 tahun yang digelar selama 7 hari berturut-turut setelah hari Raya Idul Fitri. Sedangkan di Bakungan, ritual Tari Seblang penarinya, Supani wanita lanjut usia berumur 69 tahun digelar satu minggu setelah hari raya Idul Adha.
Baca juga:
- Mengintip Tarian Seblang Yang Penuh Nuansa Mistis Persembahan Gadis Olehsari.
- Tak Sembarang Wanita Bisa Jadi Penari Seblang, Inilah Syarat-Syaratnya
- Menjadi Penari Gandrung Sejati, Beginilah Prosesnya.
Upacara ritual Tari Seblang Bakungan diawali dengan berziarah ke makam leluhur, Buyut Witri dengan membawa berbagai macam perlengkapan ritual. Mereka juga mengambil air dari sumber mata air di lingkungan setempat yang nantinya air tersebut dipercikkan di sudut-sudut kampung. Setelah itu mereka juga menyiapkan syarat untuk ritual tari Seblang, yang terdiri dari ketan sabrang, ketan wingko, tumpeng, kinangan, bunga 500 biji, tumpeng takir, boneka, pecut dan kelapa yang menjadi perlambang kejujuran.
Usai salat magrib, ritual diawali dengan keliling kampung sambil membawa obor atau dikenal dengan ider bumi oleh ratusan anak-anak dan orang dewasa serta tokoh agama setempat. Di sepanjang jalan yang dilalui, mereka melafalkan doa-doa keselamatan.
Uniknya saat prosesi berlangsung semua aliran listrik di kampung tersebut wajib dipadamkan, penerangan hanya melalui nyala obor yang dipasang di depan setiap rumah warga dan obor yang dibawa anak-anak keliling kampung menuju pusat acara.

Setiba di pusat acara, tokoh adat setempat langsung memukul kentongan sebagai pertanda masyarakat diperbolehkan makan. Warga yang hadir makan bersama dengan keluarga dan pengunjung yang datang untuk menyantap nasi tumpeng dengan lauk pauk pecel pitik khas warga Using. Serta berbagai hidangan lainnya seperti buah-buahan, sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan rahmat yang diberikan Allah kepada warga setempat.
Setelah selamatan, penari seblang yang berusia lanjut dan sudah kerasukan roh halus leluhur setempat bersiap untuk menyajikan sebuah tarian mistis di tengah pentas yang ada di balai kelurahan setempat dipandu oleh pawang dengan membawa dua bilah keris. Sang penari Seblang berjalan menuju pentas atau altar Sanggar Bakung dengan mata terpejam menari selama semalam suntuk.
Nuansa mistis langsung terasa ketika aroma dupa wangi terhirup saat mantra dan doa dibacakan. Dengan diiringi beberapa gending seperti gending kodok ngorek dan seblang lukinto, penari Seblang terus menari di hadapan ratusan penonton yang datang dari berbagai daerah dan mancanegara.
Sesi bagi-bagi kembang dhermo yang ditunggu penonton juga disajikan. Penari seblang membagikan bunga kepada penonton. Warga berharap, bunga yang diperoleh dari penari seblang ini bisa mendatangkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dengan syarat harus memberi mahar seikhlasnya.
”Tadi beli Rp 5 ribu dapat dua bunga. Katanya sih kalau beli bunga ini kita dapat rezeki yang melimpah dan enteng jodoh, saya meyakini ini,” kata Frendy, penonton.

Pada pertengahan ritual tari Seblang, juga disajikan sebuah drama teatrikal kehidupan masyarakat Using Banyuwangi dan masyarakat Bali pada zaman dahulu kala, berkonsolidasi menumpas penjajah. Untuk mengalihkan perhatian musuh, warga kala itu menggelar aduan ayam. Di saat penjajah menonton aduan ayam itulah, warga memanfaatkan kelengahan musuh untuk menumpas penjajah.
Sekretaris Disbudpar Banyuwangi, Choliqul Ridho mengatakan, ritual Seblang merupakan jembatan bagi masyarakat untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. (ful)










