Kediri, ArahJatim.com — Jum’at pagi di kawasan GOR Joyoboyo, Kediri, terasa berbeda. Sekitar 150 peserta, mayoritas lansia, tampak bersemangat mengikuti senam terapi “Ling Tien Kung” bersama IMAM WIHDAN ZARKASYI, ST., MM, Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Kediri.
Momen olahraga itu dirangkai dengan kegiatan reses bertema “Kolaborasi – Transformasi”, sekaligus jadi ruang menyerap aspirasi warga secara langsung.
Senam Ling Tien Kung: Terapi Titik Nol untuk Lansia
Dipandu instruktur lokal, para peserta mempraktikkan Ling Tien Kung, senam terapi asal Surabaya ciptaan Fu Long Swie. Dikenal juga sebagai “Ilmu Titik Nol”, senam ini fokus membangkitkan energi internal antara pusar dan anus lewat gerakan lambat tanpa alat.
Ada dua gerakan utama yang rutin dipraktikkan:
- Jinjit-jinjit: Ditujukan untuk mengatasi masalah saraf dan tulang seperti pengapuran hingga saraf kejepit.
- Empet-empet anus (Fu Kang): Bertujuan memperbaiki peredaran darah, membantu keluhan kolesterol, diabetes, dan darah tinggi.
“Senam ini aman banget buat lansia. Tidak perlu alat, tapi efeknya kerasa di badan. Peredaran darah lebih lancar, badan lebih enteng,” ujar salah satu peserta. Tak heran, Ling Tien Kung kini banyak dipraktikkan berkelompok di ruang publik karena dianggap efektif untuk pemulihan kesehatan.
Usai berkeringat bersama, peserta berkumpul santai di lantai 2 PeDe Beef Resto & Cafe, tepat di depan pintu GOR Joyoboyo. Obrolan hangat mengalir sambil sarapan, mencairkan suasana reses yang biasanya formal.
Reses Sambil Sehat: Serap Aspirasi di Tengah Lansia
Imam Wihdan Zarkasyi, yang akrab disapa “Pak Lek Imam”, menegaskan reses kali ini sengaja dikemas berbeda.
“Ya, sebagai kewajiban reses saya harus turun ke masyarakat untuk menampung aspirasi. Terang-terang saja, ini juga bagian dari rencana melombangkan komunitas baru. Tentu harus melibatkan masyarakat, memastikan seberapa perlu, dan menginformasikan supaya warga terlibat aktif,” kata Imam, Jum’at (5/6/2026).
Ia menekankan pentingnya memastikan GOR Joyoboyo benar-benar bisa dimanfaatkan dan jadi milik bersama warga Kota Kediri.
Usulan Warga: Sulap GOR Jadi Lebih Indah, Opsi Sewakan Lahan
Dialog hangat terjadi saat Pak Mul, senior komunitas JJS, menyampaikan usulan. Ia berharap kawasan GOR dibuat lebih indah. Selama ini, kata dia, kelompok senam sudah rutin gotong royong membersihkan area.
“Kalau memang pemerintah kota terbatas dana untuk pemeliharaan, kenapa tanah di GOR tidak disewakan saja? Hasilnya untuk keperluan GOR,” usul Pak Mul.
Menanggapi itu, Imam mengakui keterbatasan anggaran Pemkot akibat efisiensi di berbagai sektor.
“Usul yang bagus. Dengan adanya efisiensi ini, anggaran memang makin seret. Aset-aset di GOR banyak yang terbengkalai. Ini jadi masukan supaya Pemkot punya alternatif sumber dana baru untuk menghidupi tempat-tempat yang memang jadi kebutuhan warga,” jelasnya.
Imam menambahkan, opsi penyewaan lahan tentu butuh payung hukum. “Harusnya bisa, cuma kita perlu lihat Perda yang ada. Mungkin perlu payung hukum baru yang memastikan ramah terhadap investor, tapi tetap berpihak ke warga,” tegasnya.
Ia berjanji akan membawa usulan tersebut ke Pemkot. “Anggaran esensial hampir 200 miliar, ini yang bikin seret. Tapi aset harus produktif. Akan saya usulkan,” tutupnya.
Kolaborasi Nyata: Sehat Bareng, Bangun Kota Bareng
Kegiatan reses yang dibalut olahraga ini jadi bukti bahwa menyerap aspirasi tak harus kaku. Lewat Ling Tien Kung, lansia sehat, komunikasi warga dan wakil rakyat pun mengalir natural.
GOR Joyoboyo diharapkan tak hanya jadi pusat olahraga, tapi juga ruang kolaborasi. Dari keringat pagi, lahir ide transformasi: GOR yang lebih indah, terawat, dan mandiri secara pembiayaan, untuk warga Kediri.










