“Radikalisme sebagai gerakan sosial yang menolak secara menyeluruh tertib sosial yang sedang berlangsung dan ditandai oleh kejengkelan moral yang kuat untuk menentang dan bermusuhan dengan kaum yang memiliki hak untuk berkuasa”. Saya ingat betul tulisan Sartono Kartodirjo yang membahas tentang radikalisme itu. Tulisan lama yang mungkin tak semua orang membacanya.
Pekan ini di hari Kemerdekaan RI ke 78, saya berkesempatan untuk berkunjung di Magetan. Kabupaten yang berada di kaki Gunung Lawu itu menuntun saya untuk menyapa santri Pondok Pesantren Baitul Quran Al Jahra. Namanya begitu dikenal setelah beberapa slide foto tersebar di dunia maya dimana para santrinya menenteng airsoftgun.
Sebetulnya tak banyak hal yang berbeda dari pondok pesantren lain di tanah Jawa. Ada beberapa gedung untuk santri melakukan kegiatan belajar dan beberapa gedung lain entah perinciannya saya juga kurang paham. Mungkin digunakan untuk tempat istirahat para santri.
Pun dengan ketika saya datang niatnya untuk melakukan upacara bendera, nawaitu berupacara merayakan hari kemerdekaan. Saya juga ikut rombongan Irjen Ibnu Suhaendra yang kini menjadi Deputi Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan BNPT. Beberapa hari silam beliau memang mengajak saya untuk ikut serta berkunjung ke Magetan.
Saking dekatnya dengan orang-orang yang mendampingi beliau. Termasuk istri Bang Ibnu (begitulah saya memanggil), sampai-sampai saya ikut menjadi juri di lomba menghias Tumpeng. “Tahu apa saya tentang Tumpeng kok tiba-tiba jadi juri,” ucap saya dalam hati sembari mengiyakan saja seakan memiliki hak istimewa lantaran “Dekengan Pusat”, kata-kata yang mencuri perhatian banyak orang akhir-akhir ini.
Mengenai kabar terpaparnya ponpes tersebut dengan radikalisme mungkin saja benar. Tapi saya juga belum bisa memastikan dan berasumsi secara pribadi. Nyatanya mereka melaksanakan “Agustusan” dengan meriah. Jiwa patriotisme dan nasionalismenya ada untuk negara. Atau mungkin saja masih tingkat awal dan masih bisa diluruskan kembali.
Dalam sesi wawancaranya dengan rekan wartawan, Irjen Ibnu juga mengatakan bahwa ia terkesan dengan perayaan kemerdekaan yang diadakan Ponpes Baitul Quran Al Jahra itu. Penjelasannya, ini akan menjadi Pilot Project untuk pesantren lain guna memupuk toleransi dan nasionalisme.
Pernyataan Irjen Ibnu juga tak sumbang. Hal itu diaminkan oleh Ustad H Nur Wahyudi, Pembina Yayasan Nur Rosyidah Pondok Pesantren Baitul Quran Al Jahra, bahwasanya pesantren juga perlu serius menanamkan nasionalisme dan patriotisme kepada santri sejak dini. “Agar nanti jikalau sudah lulus santri juga memiliki kecintaan pada tanah air. Juga persatuan dan keutuhan NKRI,” begitu kata Ustad Nur sekilas saya mendengarkan wawancaranya bersama wartawan. (Liana Kurniawan)











