
Kediri, ArahJatim.com – Tradisi tiban adalah sebuah ritual untuk memohon hujan kepada Tuhan. Tiban yang dalam bahasa Jawa berasal dari kata “tiba” yang berarti “jatuh” terus dilestarikan oleh masyarakat Trenggalek, Blitar, Tulungagung, dan Kediri.
Ritual yang berwujud tarian ini dilakukan oleh beberapa pria remaja dan dewasa. Sambil bertelanjang dada, mereka saling memukul menggunakan Sodo Aren (lidi dari tumbuhan berbuah kolang-kaling yang batang pohonnya menghasilkan ijuk.
Sambaran pecut ini kerap melukai kulit tubuh peserta tiban hingga mengucurkan darah segar. Namun uniknya, tak ada satupun dari mereka yang kendur untuk meninggalkan arena yang dipimpin seorang Plandang sebagai wasit. Kekusyusukan mereka saat menjalankan ritual dipercaya telah mematikan rasa sakit akibat pukulan pecut.
Sabtu malam, 8 September 2018, sejumlah pria menggelar ritual tiban di Desa Surat, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri. Tak hanya dari dari Desa Surat, peserta lain dari Nganjuk, Blitar, dan Tulungagung ikut dalam ritual baku pecut tersebut. Banyaknya peserta ritual tiban ini pun memaksa penyelenggara acara melangsungkannya dalam 90 babak. Masing-masing peserta diberi kesempatan memukul lawan hingga lima kali secara bergantian.
Adu pecut di malam Ahad tak terelakkan. Disaksikan ribuan masyarakat yang memadati arena tiban berbentuk panggung kayu terbuka, ratusan peserta saling melukai lawan sekeras-kerasnya. Meski terkesan brutal, tak ada korban jiwa dalam penyelenggaraan ritual yang telah berlangsung turun-temurun ini.
Menurut kisah leluhur, ritual tiban ini berawal dari keinginan penduduk untuk bertaubat. Seorang raja atau pemimpin yang tamak kala itu dianggap memicu kutukan para dewa dengan mendatangkan kemarau panjang. Semua ternak dan sawah mati. Tak ada yang tersisa dalam kemarau ganas yang melanda seluruh negeri.
Hingga kemudian para brahmana bermufakat untuk melakukan pertaubatan. Warga yang masih memiliki sisa ternak dan hasil bumi diminta menyerahkan sebagian sebagai persembahan. Bagi pemilik diminta menyerahkan pecut untuk mengembala sebagai simbol pengorbanan.
Pecut itulah yang pada akhirnya dilakukan untuk saling melukai sebagai permohonan maaf sekaligus penebusan dosa atas pemimpin mereka yang lalim. Kekusyukan mereka dalam melakukan ritual telah menutup rasa sakit akibat terjangan pecut. Saat itulah hujan tiba-tiba turun dengan deras menyelamatkan kehidupan penduduk dari kemarau panjang.
Kini, di tengah berlangsungnya kemarau yang mengancam sumber air, masyarakat di Desa Surat kembali menggelar tiban. Mereka percaya ritual ini akan mampu menurunkan hujan selain permintaan doa melalui pengajian.
“Ritual ini kami selingi dengan doa memohon kepada Allah agar diberi perlindungan,” kata Komari, perangkat Desa Surat.
Bersama PT Gudang Garam Tbk sebagai pendukung penyelenggaraan ritual, warga berusaha memohon ampun atas segala dosa kepada Sang Khalik. Selama ini, perusahaan rokok itu tak pernah berhenti memberikan dukungan untuk upaya pelestarian budaya dan tradisi.(das)











